Vale Indonesia Kantongi Laba Rp4,28 Triliun pada 2023, Naik 37 Persen

Senin, 12 Februari 2024 | 18:43 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

JAKARTA, GOSULSEL.COM — PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 274,33 juta atau setara Rp4,28 triliun pada 2023, naik 37% dibanding tahun sebelumnya US$ 200,4 juta. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan pendapatan emiten pertambangan nikel ini yang meningkat 4,48% dari US$ 1,18 miliar menjadi US$ 1,23 miliar.

Dalam keterbukaan informasi kepada otoritas bursa, Minggu (11/02/2024), manajemen Vale Indonesia menjelaskan, peningkatan pendapatan perseroan pada 2023 dikontribusikan dari penjualan kepada Vale Canada Limited (VCL) yang meningkat sebesar 3,42% menjadi US$ 985,81 juta dari sebelumnya sebesar US$ 953,20 miliar.

Begitu juga penjualan kepada Sumitomo Metal Mining (SMM) yang mencatatkan kenaikan sebesar 8,92% dari US$ 226,24 juta pada 2022 menjadi US$ 226,24 juta pada tahun buku 2023. Baik, VCL maupun SMM merupakan pemegang saham perseroan dengan porsi masing-masing sebesar 43,8% untuk VCL dan 15% untuk SMM.

Sementara dari sisi beban pokok pendapatan cenderung mengalami pembengkakan. Pada 2023, beban pokok pendapatan Vale membengkak menjadi US$ 885,24 juta dari semula US$ 865,88 juta. Pembengkakan itu terjadi akibat meningkatnya beban bahan bakar minyak dan pelumas dari US$ 180,16 juta pada 2022 menjadi US$ 203,89 juta pada 2023.

Depresiasi juga naik menjadi US$ 173,19 juta dari sebelumnya US$ 164,23 juta. Belum lagi, bahan pembantu yang pada 2023 lebih tinggi menjadi US$ 121,62 juta ketimbang tahun lalu sebesar US$ 197,44 juta. Pun demikian, dengan beban jasa kontraktor yang naik menjadi US$ 122,26 juta dari sebelumnya US$ 119,25 juta.

Sebaliknya, beban bahan bakar batu bara justru mengalami penurunan. Pada 2023, beban bakar batu bara Vale mencapai US$ 101,75 juta dari sebelumnya US$ 110 juta. Beban biaya karyawan juga menurun dari US$ 85 juta menjadi US$ 80,71 juta, yang turut berpengaruh pada beban pajak dan asuransi yang menyusut dari US$ 41,88 juta menjadi US$ 38,16 juta pada 2023.

Sebaliknya, beban bahan bakar batu bara justru mengalami penurunan. Pada 2023, beban bakar batu bara Vale mencapai US$ 101,75 juta dari sebelumnya US$ 110 juta. Beban biaya karyawan juga menurun dari US$ 85 juta menjadi US$ 80,71 juta, yang turut berpengaruh pada beban pajak dan asuransi yang menyusut dari US$ 41,88 juta menjadi US$ 38,16 juta pada 2023.

Termasuk beban royalti yang mengalami efisiensi dari US$ 35,61 juta menjadi US$ 33,99 juta, diikuti lagi dengan efisiensi signifikan dari pos lainnya menjadi US$ 1,45 juta ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 3,66 juta.

Faktor lain yang membuat beban pokok pendapatan INCO pada 2023 naik berasal dari pihak ketiga yakni PT Pertamina Patra Niaga yang mencapai US$ 179,15 juta. Padahal, pada 2022 beban pokok pendapatan perseroan kepada pihak ketiga tersebut sebesar US$ 150,78 juta.

Menurut manajemen, pembengkakan beban pokok pendapatan dari pihak ketiga itu terjadi lantaran pemasok dengan transaksi pembelian yang melebihi 10% dari jumlah pendapatan. Kendati demikian, naiknya benan pokok pendapatan tersebut turut mengatrol laba kotor perseroan menguat menjadi US$ 347 juta dibandingkan sebelumnya US$ 313,56 juta.

Di samping beban pendapatan, Vale juga mengalami pembengkakan dari sisi beban usaha. Pada 2023, beban usaha perseroan naik menjadi US$ 22,15 juta dibandingkan beban usaha pada 2022 sebesar US$ 19,73 juta.

Peningkatan beban tersebut imbas dari naiknya biaya jasa profesional menjadi US$ 9,28 juta dari sebelumnya US$ 6,14 juta, biaya karyawan naik menjadi US$ 6,72 juta dari semula US$ 6,72 juta, dan beban lainnya yang meningkat menjadi US$ 6,14 juta dari US$6,86 juta pada 2022. Adapun pendapatan lainnya menurun sebesar 36,15% dari US$ 1,28 pada 2022 menjadi US$ 823 ribu.

Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan beban lainnya yang justru menguat menjadi US$ 23,53 juta dari sebelumnya US$ 23 juta. Kenaikan beban lainnya itu berasal dari kerugian selisih kurs menjadi US$ 2,86 juta dan lainnya yang naik menjadi US$ 3,96 juta dari US$ 3,41 juta pada 2022.

Sama seperti beban pokok pendapatan, membengkaknya beban usaha perseroan juga mengerek perolehan laba perseroan yang melejit menjadi US$ 302,15 juta daripada sebelumnya sebesar US$ 272 juta.(*)


BACA JUGA