Movie Day ACFFEST di Makassar, KPK Ajak Sineas Cegah Korupsi Lewat Film

Sabtu, 08 Juni 2024 | 13:05 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Endra Sahar - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Setelah mengunjungi Kota Aceh dan Medan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini singgah di kota Makassar untuk menggelar Roadshow Movie Day. Acara ini bagian dari rangkaian kegiatan Anti-Corruption Film Festival (ACCFEST) 2024, Jumat (07/06/2024).

Melalui kegiatan ini, KPK mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan korupsi dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, yaitu melalui film.

pt-vale-indonesia

Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, mengatakan sejak 2013 ACFFEST bertahan hingga hari ini karena tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti festival film ini. Tahun lalu, tercatat lebih dari 900 orang mendaftarkan diri dan berpartisipasi. Hal ini bukti bahwa ACFFEST dapat bertahan karena masyarakat.

“Teman-teman yang masih mempertahankan diri bahwa membuat film antikorupsi ini menarik,” ujar Wawan dalam Talkshow Movie Day di Cinepolis Phinisi Point, Makassar, kemarin.

Wawan menyampaikan pentingnya upaya pemberantasan korupsi melalui penanaman nilai antikorupsi. Sosialisasi dan kampanye lewat media audio visual seperti film menjadi salah satu upaya yang dianggap efektif oleh KPK.

“Tingkat keberhasilan penyampaian pesan dengan audio visual hingga mencapai 90%. Lewat film, KPK ingin melakukan upaya pendidikan dengan penyampaian pesan nilai antikorupsi,” kata Wawan.

Sutradara dan penulis naskah film Filosofi Kopi, Surat dari Praha, Love for Sale, Nussa, Keluarga Cemara 2, Irfan Ramli, yang juga menjadi narasumber dalam talkshow ini mengatakan seorang film maker harus memiliki alasan untuk membuat film.

“Film itu dibuat bukan tanpa maksud, karena kita punya sesuatu yang ingin disampaikan untuk diekspresikan. ACFFEST sangat menarik karena memuat nilai antikorupsi, jenis film yang harus punya moral story,” kata penerima penghargaaan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2023 itu.

Dalam kesempatan ini Irfan juga berbagi tips untuk membuat film pendek yang menarik bagi para calon peserta ACFFEST 2024. Menurutnya, selain memiliki tujuan, peserta harus fokus dengan pesan yang ingin diutarakan.

“Semakin bisa fokus dengan apa yang mau dibicarakan, maka akan bisa bikin film yang semakin kuat,” katanya.

Ia lalu mencontohkan seperti salah satu film yang diputar dalam Movie Screening yang berjudul ‘Titip Sendal’. Film besutan sineas Pontianak ini bercerita tentang Ibu Lilik yang menitipkan antrian ke menantunya dengan menaruh sandal di kegiatan vaksin massal. Menantunya merupakan salah satu pegawai di Puskesmas.

“Film ini tidak akan menarik ketika yang menitipkan sandal hanya satu orang. Tapi dengan ada banyak orang yang menitipkan sandal, penonton jadi tersampaikan bahwa hal itu dianggap lumrah. Padahal kalau itu terjadi massif dampaknya bisa sangat buruk,” ujar Irfan.

Selain film ‘Titip Sendal’, para tamu undangan yang merupakan pelajar, mahasiswa, media, dan komunitas pegiat film juga disuguhkan film ‘Gombal from Home’, ‘Air Mata Penyesalan’, dan ‘Labirin Lembusora’.

Tentang ACFFEST 2024

Setelah satu dekade ACFFEST hadir dan mewarnai dunia perfilman, tercatat 118 film pendek telah lahir dan diputar di berbagai platform pemutaran film seperti YouTube, Maxstream, Cinemaworld, Genflix, hingga Bioskop Online. Selain itu, film-film ACFFEST juga dapat dinikmati saat masyarakat naik pesawat Garuda Indonesia dan Kereta Api Indonesia.

ACFFEST tahun ini akan berlangsung hingga November 2024 dengan berbagi rangkaian acara menarik. Pertama, Kompetisi Nasional yang melibatkan sineas lokal dengan output film hasil kompetisi. Kedua, Kompetisi Sinema Aksi untuk komunitas. Inisiatif yang baru di tahun ini mengajak sineas untuk melakukan pemutaran ACCFEST guna menyebarkan budaya antikorupsi ke berbagai komunitas.

Ketiga, Roadshow Movie Day yang akan berkeliling ke 10 kabupaten/kota di Indonesia, yaitu Medan, Banda Aceh, Makassar, Semarang, Malang, Kupang, Kabupaten Sumbawa, Kota Palu, Singkawang, dan Balikpapan.

Keempat, International Movie Competition and Screening dengan mengundang 10 negara yang tergabung dalam ASEAN PAC untuk mengikuti kompetisi, diskusi dan pemutaran film antikorupsi.

Kelima, Community Development yang merupakan salah satu upaya KPK untuk mengelola komunitas sineas agar terus memproduksi film dengan muatan nilai antikorupsi.

Terakhir, kategori keenam dan ketujuh, yaitu Ajang Apresiasi (Awarding Night) yang akan memberikan penghargaan kepada peserta kompetisi ACFFEST serta kesempatan untuk mempererat hubungan dengan mitra kerja KPK (pemerintah, BUMN, kampus, hingga komunitas film). Mitra KPK tersebut memiliki peran penting dalam menyebarkan gerakan antikorupsi.

KPK akan memberikan apresiasi berupa biaya produksi kepada 12 finalis terpilih pada kategori ide cerita agar dapat memproduksi ide ceritanya. Tak hanya itu, para finalis juga akan mendapatkan pendampingan dari sineas-sineas ternama di Indonesia.

KPK berharap ACFFEST 2024 dapat menggerakkan semangat para sineas tanah air untuk mengembangkan ide cerita yang menginsipirasi dan ikut memberantas korupsi melalui seni.(*)