(Foto: Es Poteng Dg.Emba di Sungguminasa, Gowa. Selasa, 19 April/Fotografer: Sapriady Putra Zack/GoSulsel.com)

Es Poteng Lamekayu, Lestari di Antara Gempuran Modernitas

Selasa, 19 April 2016 | 13:38 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Irwan Idris - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Poteng lamekayu, penganan dingin yang terbuat dari lamekayu atau ubi kayu mentega. Ubi ini berwarna kuning, seperti mentega. Orang-orang tidak membuat poteng dari ubi kayu putih, karena rasa dan teksturnya tidak pas saat direbus.

Daeng Emba (43 tahun), pedagang es poteng lamekayu, menjelaskan singkat cara sederhana membuat poteng. Bapak yang telah 20 tahun lebih menjajakan es poteng ini mengatakan, bahwa ubi kayu yang ia pilih harus baru, bukan yang telah lama dicabut dari kebun. Ini penting untuk menjaga rasa dan  kualitas poteng bisa lebih mantap.

“Kita pake ubi kayu kuning, bukan yang putih karena nda bagus dibikin poteng, nak”, ucapnya dengan wajah cerah saat tim GoSulsel.com bercengkrama dengannya, Selasa (19/4).

Selanjutnya, ubi tersebut direbus selama kurang lebih 1 jam hingga ubi empuk. Kemudian ubi didinginkan dengan cara dikipas atau diangin-anginkan. Setelah dingin, ubi lalu dicampur dengan ragi untuk kemudian dilakukan proses fermentasi selama 2 hari. Proses fermentasi inilah yang membuat rasa asem kecut dari ubi bisa kita rasakan pada semangkuk poteng.

Rasanya memang khas makassar. Dulunya, poteng tidak memakai es, sirup DHT, dan susu kental manis. Rasa poteng yang berkarakter tersebut, mirip dengan aroma ballo (tuak tradisional). Berkat inovasilah, kini poteng menjadi santapan sedap dan segar di siang hari kota metropolis Makassar yang gerah.

Halaman:

BACA JUGA