Roti Maros dengan bentuknya yang konsisten. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/gosulsel.com).
#

Roti Maros, Tetap Eksis Kendati Telah Turun Pamor

Kamis, 08 Oktober 2015 | 11:00 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Maros, GoSulsel.com – Siapa sih warga Sulawesi Selatan yang tidak mengenal Roti Maros (Roma)? Jajanan ini pernah menjadi primadona di provinsi ini. Namun, kini roti empuk berisi selai kaya ini sudah banyak kehilangan peminat.

Dulu, roti yang jadi ole-ole khas Maros ini jadi pilihan favorit para pengguna jalan yang ingin melakukan perjalanan jauh atau pulang kampung di daerah Sulawesi Selatan. Sepanjang Jalan Tinumbu Poros Makassar-Maros diramaikan oleh bus dan mobil. Para penumpangnya singgah membeli roti yang jadi kegemaran warga di tahun ’90an ini.

“Tidak ada yang tidak kenal Roti Maros. Tapi itu dulu. Anak anak jaman sekarang mungkin sudah kurang yang tahu. Mungkin nama Roti Maros tidak asing di telinganya. Tapi kemungkinan besar tidak pernah melihat secara langsung apalagi menyantapnya,” ujar Andi Masnani, pelanggan Roma kepada GoSulsel.com, Senin (05/10).

Roma tak berbeda dengan roti lain yang dibakar dalam oven. Namun, dari segi bentuk, roti ini memiliki ciri khusus dengan bentuknya yang mirip kasur dan penyajiannya dibungkus koran.

Seiring perkembangan jaman, Roma sudah digantikan dan tertinggal jauh semenjak bertambah banyaknya kuliner modern yang hadir di Sulsel. Namun, sepanjang Jalan Tinumbu, Poros Makassar-Maros, pedagang Roma masih menjajakan jajanan tahun ’90an ini. Meski begitu, tak banyak lagi yang memilih jajanan seharga Rp 10 ribu per pack ini sebagai ole-ole untuk ke kampung.

Halaman 2
Roti Maros yang dikemas. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/gosulsel.com).

Roti Maros yang dikemas. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/gosulsel.com).

Usia yang pendek yakni 2 hari saja dan pamor yang meredup, membuat para pemilik bisnis ini mengurangi jumlah produksinya.

“Semenjak banyakmi roti dan kue-kue yang dijual di sepanjang jalan, peminat Roti Maros sudah menipis, sangat kurang. Tidak bisa dipungkiri, produksi juga harus kita turunkan. Karena Roti Maros cuma bertahan sampai 2 hari saja. Jangankan 2 hari, tidak cukup sehari, Roti Maros itu sudah keras. Jadinya tidak enak lagi dimakan,” ungkap salah seorang pedagang Roma yang tidak ingin disebut namanya kepada GoSulsel.com di tengah kesibukannya.


BACA JUGA