Seporsi Sop Saudara Andalas yang kuahnya kini memakai kacang tanah. (Foto: Isnaniah Nurdin/gosulsel.com).

Sop Saudara Andalas, dari Kayu Bangkoa Hingga Minyak Tanah

Sabtu, 10 Oktober 2015 | 16:16 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Citizen Reporter

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Dulu ternyata Sop Saudara Andalas menggunakan kayu bangkoa atau kayu dari pohon bakau sebagai bahan bakar.

Waktu itu tepatnya tahun 1971, Haji Muhammad Umar, sang perintis, memulai usahanya dari hasil bekerja di Warung Sop Saudara milik kakaknya. Modal yang digunakan untuk membuka usaha warung Sop Saudara kala itu sebesar Rp 25 ribu dan harga semangkuk Sop Saudara adalah Rp 10 ditambah sepiring nasi seharga Rp 5.

Lokasi usahanya di Jalan HOS Cokroaminoto dekat dari bioskop Ampera, berjejer bersama puluhan lapak milik penjual makanan yang lain. Posisi tempat usaha yang dekat dari bioskop Ampera memberikan keuntungan tersendiri bagi ayah dari 10 putera-puteri ini, Sop Saudara miliknya akan diserbu pembeli saat menjelang penayangan film atau saat penonton di bioskop mulai bubar di malam hari.

Tahun 1984, demi mengembangkan usaha miliknya, Haji Umar memindahkan warungnya ke Jalan Andalas, Makassar. Ia mengontrak salah satu ruko yang berada di kawasan Jalan Andalas. Kala itu, ada 2 warung Sop Saudara yang berjualan di Jalan Andalas, satunya milik Haji Umar dan satunya lagi milik kakaknya. Hampir bersamaan dengan itu, warung masakan padang, dan warung Djogoyudan juga membuka usaha di jalan yang sama. Praktis ada 4 usaha kuliner yang berjualan di Jalan Andalas.



Berpindahnya tempat usaha milik Haji Umar juga berpengaruh pada cara mengolah Sop Saudara. Jika di tempat yang lama, ia menggunakan kayu bangkoa untuk mendidihkan kuah Sop Saudara, maka di tempat yang baru ia harus menggunakan minyak tanah untuk memasak. Perubahan ini membuat kualitas rasa dari Sop Saudara menurun.

Halaman 2
Warung Sop Saudara Andalas milik Haji Umar. Sebelumnya, Haji Umar mendirikan usahanya ini di Jalan HOS Cokroaminoto. (Foto: Iskandar Achmad/GoSulsel.com).

Warung Sop Saudara Andalas milik Haji Umar. Sebelumnya, Haji Umar mendirikan usahanya ini di Jalan HOS Cokroaminoto. (Foto: Iskandar Achmad/GoSulsel.com).

“Tidak ada tempat kayu bakar di sini, jadi kita tidak bisa lagi pake cuma bisa pake minyak tanah saja. Padahal rasanya lebih enak kalo dimasak pake kayu bangkoa,” jelasnya.

Variasi menu mulai dilakukan saat berada di tempat usaha yang baru. Ia menambahkan ikan Bandeng bakar. Harga ikan Bandeng jauh lebih murah dibanding ikan laut dan keterikatannya dengan kampung halaman tetap terjaga. Pasokan ikan Bandeng didapatnya dari Pangkep saat musim panen tiba. Jika musim panen telah lewat, maka ia akan membelinya dari pasar yang tak jauh dari tempat usahanya.

Melalui usaha yang dibangunnya, Haji Umar mampu menghidupi keluarganya, menyekolahkan putera-puterinya bahkan memberikan modal usaha bagi putera-puterinya. Saat ini ada 2 putera-puterinya yang mengikuti jejaknya membuka warung Sop Saudara.

Muhammad Yusri, si anak ke-5, membuka usaha serupa di Maros dan Kartini, anak ke-6 membuka warung Sop Saudara di Pangkep. Usaha kuliner Sop Saudara yang diwariskan turun-temurun membuat kuliner ini mampu bertahan dalam persaingan bisnis kuliner di Makassar.

 

Isnaniah Nurdin


BACA JUGA