Restoran Bambuden yang terletak di Jalan Gunung Latimojong. (Foto: Isnaniah Nurdin/GoSulsel.com)

Tan Han Soei, Nama di Balik Kebesaran Bambuden

Senin, 12 Oktober 2015 | 09:01 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Citizen Reporter

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Nama restoran Bambuden sangat familiar bagi keluarga Makassar. Tak terhitung lagi banyaknya pasangan yang melangsungkan hari bahagianya di tempat itu. Bambuden menjadi icon yang menunjukkan identitas sosial. Restoran ini sekaligus jadi bagian dalam sejarah Makassar yang berusaha dicitrakan para petingginya sebagai kota metropolitan, megapolitan, bahkan kota dunia.

Tan Han Soei adalah laki-laki yang berada di belakang nama besar Bambuden. Ia lahir di Kota Yong Chun, Provinsi Fujian, Republik Rakyat Cina (kini Republik Rakyat Tiongkok). Masa mudanya diisi dengan bekerja sebagai juru masak di berbagai restoran di Cina. Pengalaman itu menempanya memiliki tekad kuat jadi koki besar yang terkenal dan dipuji oleh penggemar makanan.

Tahun 1930, Tan Han Soei memutuskan ke Indonesia. Nasib baik mengantarkannya jadi kepala koki di kapal yang berlabuh di wilayah bagian timur Indonesia. Penghasilan sebagai kepala koki ditabung seluruhnya oleh Tan Han Soei muda. Tekadnya untuk memiliki restoran yang terkenal pun kian kuat.

Kerja kerasnya selama belasan tahun akhirnya membuahkan hasil. Ia membangun rumah makan kecil miliknya yang pertama di tahun 1942 yang diberinya nama Xing Hua Cun Jiu Jia yang berada di Erst Bulekang Straat, saat ini bernama Jalan Bacan. Inilah yang jadi cikal bakal lahirnya restoran Bambuden.

Tan Han Soei lalu memindahkan rumah makan miliknya ke Mur Straat–saat ini disebut Jalan Timor–demi mengembangkan usaha yang dimilikinya. Rumah makan yang dimiliki Tan Han Soei kian berkembang dan mengalami peningkatan laba yang luar biasa. Memindahkan usahanya ke pusat perdagangan kota di Maradekaya Street, sekarang Jalan Gunung Latimojong kembali dilakukan Tan Han Soei di tahun 1950 sebagai konsekuensi dari usahanya yang kian berkembang.

Halaman 2

Perjalanan bisnis Tan Han Soei juga tak terlepas dari dinamika pemerintahan di Makassar. Di tahun 1972, rumah makan Xing Hua Cun Jiu Jia berubah nama menjadi restoran Bambuden mengikuti peraturan pemerintah kota dan perkembangan zaman.

Sedekade kemudian, Tan Han Soei menunjuk putera tunggalnya, Tan Tjie Kok sebagai pewaris dari generasi kedua.

“Persamaan visi dan misi antara ayah dan anak membuat restoran Bambuden semakin berkembang, dari satu restoran menjadi tiga restoran besar,” papar Risma Puspita, Marketing Manager Bambuden Restaurant, Rabu (17/06).

Di tahun 2004, Tan Tjie Kok menghembuskan nafas yang terakhir. Bisnis keluarga ini kemudian dilanjutkan oleh isterinya, Selvia Jauw, bersama ketiga putera-puterinya. Kini, bisnis keluarga Tan telah berada di generasi ke-4, dikelola oleh Hilton, putera dari Tan Tjie Kok.

Halaman 3

Manajemen yang diterapkan restoran ini juga berubah. Dulu dikelola penuh oleh keluarga, kini menggunakan manajemen modern. Bisnis dipercayakan kepada 2 manajer yaitu manajer operasional dan manajer pemasaran. Pemilik mengontrol usahanya melalui laporan yang diserahkan oleh kedua manajer.

“Kami membuat laporan kepada owner, dan setiap sore Pak Hilton datang ke restoran untuk melakukan briefing kepada karyawan,” terang Risma.

 

Isnaniah Nurdin


BACA JUGA