RM Oke di Jalan Bulusaraung. (Foto: Isnaniah Nurdin/GoSulsel.com)

Hasnah Wijaya, Kembangkan RM Oke dari Jualan Kue

Rabu, 14 Oktober 2015 | 13:14 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Citizen Reporter

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Sebelum buka 2 cabang, Rumah Makan Oke adalah warung tenda yang terletak di Jalan Bulusaraung, memanfaatkan lahan kosong yang ada saat itu. Kini, di atas lahan itu telah dibangun ruko dan perumahan. Hasnah Wijaya, Pemilik Rumah Makan Oke memulai usahanya di tahun 1992 dengan mendirikan warung tenda.

Sejak membuka usahanya, menu yang jadi favorit pelanggan adalah nasi goreng merah atau nasi goreng oke dengan harga per porsi Rp 1 ribu. Omzet yang didapatkan saat itu berkisar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu dengan modal awal Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Jenis kuliner yang ditawarkan saat itu tak jauh beda dengan yang ada saat ini. Untuk makanan sama sekali tidak mengalami perubahan hanya jenis minuman yang kian bervariasi. Jika di awal membuka usaha, warung tenda milik Hasnah Wijaya hanya menyediakan air putih atau air mineral maka saat ini warung miliknya juga menyediakan beragam jus buah dan minuman kemasan.

Awal membuka usaha Hasnah mengelola warung miliknya bersama suami, Eriyanto Wijaya, dibantu seorang pegawai yang bekerja sebagai pelayan. Hasnah dan Eriyanto menyiapkan seluruh kebutuhan warung termasuk belanja bahan yang diperoleh dari pasar tradisional, meracik bumbu, sampai mengolah bahan makanan sesuai pesanan pelanggan. Tak jarang pada jam padat pembeli, kedua pemilik warung tenda itu turun tangan untuk melayani pembeli termasuk mengantarkan pesanan makanan.

Tahun 2006, Hasnah Wijaya membuka cabang nasi goreng oke untuk pertama kalinya. Ia mengontrak ruko di seberang jalan warung tenda miliknya, praktis saat itu ia mengelola 2 usaha kuliner. Jumlah warung yang bertambah buat Hasnah menambah jumlah pegawainya jadi 10 orang untuk 2 tempat usaha.

Halaman 2

Kendati telah membuka cabang, Hasnah dan suami tetap mengontrol penuh bisnis kuliner yang mereka jalankan. Kebiasaan belanja bahan makanan dan meracik bumbu tetap mereka lakoni. Yang berbeda tampak pada pengolahan bahan, tidak lagi hanya dilakukan oleh Hasnah dan Eriyanto, mereka mulai membimbing pegawainya untuk jadi juru masak, tidak sekadar jadi pelayan.

Hasnah sengaja turun langsung membeli bahan makanan karena ingin memastikan jenis bahan yang diperoleh haruslah kualitas terbaik. Turun langsung berbelanja juga buat Hasnah bisa tahu perkembangan harga pasar. Meracik bumbu tetap dilakukannya sendiri untuk menjaga kualitas rasa agar tidak berubah-ubah.

“Rasa setiap masakan sama karena bumbunya atau racikannya standar yang dijual di tenda dan di ruko sama karena bahan dan bumbunya dari 1 tempat. Yang beda cuma juru masaknya,” jelas Hasnah Wijaya.

6 tahun setelah buka cabang pertama, Hasnah Wijaya di tahun 2012 membeli ruko di tempat warung tenda miliknya pernah berdiri. Ia memindahkan warung tenda miliknya ke ruko itu. Warungnya naik kelas, tidak lagi berjualan di tenda tapi sudah menempati sebuah ruko. Lantai satu ruko digunakan sebagai tempat usaha dan lantai 2 dijadikan rumah tinggal bagi Hasnah Wijaya bersama suami, keempat anaknya, seorang menantu, dan cucu perempuan.

Ruko miliknya tampak lapang, didominasi dengan warna coklat, termasuk pemilihan warna cat dinding, lantai marmer, hingga kursi kayu dan meja makan yang digunakan semuanya bernuansa coklat. Beberapa hiasan dinding tergantung manis di sisi ruangan dengan pilar-pilar yang menjulang kokoh menyanggah bagian tengah ruangan. Kursi dan meja makan diatur rapi berderet dari depan ke belakang, meja kasir berada tepat di depan pintu masuk Rumah Makan Oke. Fasilitas mushallah juga disediakan di sini.

Halaman 3

Tahun 2014, Rumah Makan Oke kembali buka cabang. Kali ini di lantai 4 Food Court MTC. Cabang kedua ini dikelola oleh putera pertama Hasnah yang telah memberikannya seorang cucu perempuan yang cantik, Ronny Wijaya.

“Sengaja membuka tempat usaha yang berdekatan biar kontrolnya mudah. Memang sudah ada 3 tempat tapi semua bahan asalnya dari sini. Saya tinggal membagi berapa yang ke MTC, berapa di sini, dan berapa di depan. Bumbu juga kita racik di sini, koki tinggal mengolah,” terang Hasnah di warung miliknya, Minggu (21/06).

Jangan pernah membayangkan semua keberhasilan yang dicapai Hasnah bersama pasangannya adalah mudah. Kesuksesan nasi goreng oke dibangun dari kerja keras dan perjuangan yang panjang dari Hasnah Wijaya bersama suami, Eriyanto Wijaya. Ilmu meracik bumbu diperoleh dari bapak mertua Hasnah yang pernah bekerja di kapal pesiar semasa mudanya.

Dari situ ia mulai belajar buat nasi goreng dan memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri berjualan nasi goreng dan mi.

“Awalnya saya juga banyak diprotes pembeli, rasanya kurang enak, kurang bumbu, kadang juga terlalu asin dari situ saya belajar, tidak pernah putus asa justru tambah semangat untuk belajar bagaimana caranya membuat nasi goreng yang oke, dan alhamdulillah usaha itu tidak sia-sia,” beber ibu 2 putera dan 2 puteri ini.

Halaman 4

Modal yang digunakan Hasnah untuk membuka usahanya pertama kali berasal dari hasil jualan kue keliling yang dikumpulkannya bertahun-tahun.

“Saya tidak pernah malu untuk mengerjakan apapun yang penting halal. Modalku dari jualan kue keliling punya mertua, saya bisa dapat untung Rp 300 dari setiap kue yang laku. Hasilnya saya kumpul selama bertahun-tahun ditambah modal dari suami hasil jualan mi bersama orang tua,” kenangnya.

Lorong demi lorong sampai jalanan besar di Makassar telah dilalui Hasnah demi mengumpulkan lembar demi lembar bahkan keping demi keping rupiah. Tak ada lagi rumah, kantor, dan toko di belahan utara Makassar yang tidak dikunjunginya demi menjual habis seluruh kue dagangannya. Kulitnya menjadi hitam legam terpanggang teriknya matahari. Namun semua itu dilakukannya tanpa kenal lelah demi mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Hasnah berjulan kue 2 kali sehari, pagi dan sore. Hasilnya lumayan bisa menyisihkan sampai Rp 200 ribu per hari. Hasnah juga harus pandai menabung, tidak bisa menggantungkan diri sepenuhnya kepada suami yang masih sulit meninggalkan kebiasaan buruknya saat itu. Apalagi mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Hasnah berdarah Gowa-Makassar sementara Eriyanto berdarah Mandarin-Mandar. Kondisi ini yang memacu semangat Hasnah untuk memiliki usaha sendiri.

“Saya harus mandiri,” tekadnya saat itu.

Halaman 5
RM Oke di siang hari. (Foto: Isnaniah Nurdin/GoSulsel.com)

RM Oke di siang hari. (Foto: Isnaniah Nurdin/GoSulsel.com)

Ketika berhasil membuka usahanya di tahun 1992, Hasnah dan Eriyanto tidak serta-merta mencicipi manisnya bisnis kuliner yang dijalankan. Ketika memasuki musim penghujan dan Makassar mulai diguyur hujan lebat serta angin kencang, saat itulah ujian akan datang. Kursi-kursi plastik dan meja tripleks beralaskan terpal pelastik yang biasa dipenuhi pembeli dengan pesanannya tampak kosong, semuanya basah terkena hujan, tak satu pun pembeli yang datang.

Jika angin bertiup sangat kencang, tak jarang tenda yang digunakan sebagai pelindung juga ikut diterbangkan angin. Jika sudah begini, air mata pun tak terbendung lagi. Hasnah harus cari pinjaman agar besok dapat melanjutkan usahanya.

Kisah getir di awal merintis usaha nasi goreng oke kini jadi pengalaman berharga bagi Hasnah dan Eriyanto. Beberapa tak perlu lagi mereka rasakan karena kini warung tenda miliknya telah berubah menjadi ruko yang nyaman sebagai tempat usaha yang berada di Jalan Bulusaraung. Ditambah 2 cabang yang telah dibuka.

Total pekerja yang dimiliki Rumah Makan Oke saat ini berjumlah 20 pegawai. Hasnah Wijaya dan Eriyanto Wijaya dalam waktu dekat berencana membuka cabang ke-3 di Parepare yang akan dipercayakan kepada putera kedua mereka, Ricky Wijaya.

 

Isnaniah Nurdin


BACA JUGA