Salah seorang daeng becak yang sedang beristirahat, tak jauh dari becak dayungnya. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Kisah Becak Dayung yang Dayungnya Hampir Terhenti

Jumat, 16 Oktober 2015 | 09:01 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Beberapa tahun lalu, becak dayung masih banyak terlihat di wilayah perkotaan Makassar. Kendaraan roda 3 ini banyak berjejer di pinggir jalan menunggu penumpang.

Seiring perkembangan zaman, kendaraan semakin canggih dan digantikan oleh becak modern yang bernama becak motor (bentor). Tak hanya di Makassar, daerah-daerah berkembang sebelumnya seperti Bandung dan Surabaya lebih dulu memiliki kendaraan ini.

Berkurangnya becak dayung ini karena dipelopori oleh waktu tempuh yang lebih lama dibanding melakukan perjalanan dengan bentor. Selain itu, daeng becak biasanya harus turun mendorong becaknya saat harus menanjaki jalanan yang bermedan sangat ekstrim.

“Cukup dengan begini. Syukurnya masih ada sedikit orang yang ingin menumpang di becak dayungku. Tapi begitumi, peminatnya sekarang kurang,” ujar Daeng Uding kepada Gosulsel.com, Selasa (13/10).

Padahal selain ramah lingkungan, becak ini sanggup membuka peluang kerja bagi tenaga kerja yang tak terlatih.

Halaman 2

“Masalahnya begini, yang dayung becak tidak selamanya bisa bawa motor. Bukanki terkendala di modal, karena sebagian tidak bisaki bawa motor. Apalagi di tengah kota. Logikanya begitu,” ungkap Daeng Ashar, pengendara becak dayung yang lain, yang ditemui di Jalan Jendral Sudirman.

Dibanding ongkos bentor yang kian melejit karena ikuti bahan bakar, tarif yang dikenakan becak dayung lebih rendah yakni Rp 7 ribu. Itu pun biasanya ada penumpang yang masih menego. Sedangkan bentor bertarif Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu untuk sekali beroperasi ke tempat yang Anda tuju.

Namun begitu, becak dayung tetap mampu beroperasi di tengah kota. Sebabnya, karena tak adanya larangan pemerintah atas kendaraan roda 3 itu.

“Syukurnya karena tidak ada larangan becak beroperasi di tengah kota. Namun pelanggan juga berkurang karena terkendala lama jalan ini becak. Yah, paling bule saja yang naik becak, sekadar jalan-jalanji,” tambah Abdul Malik, rekan Daeng Ashar.


BACA JUGA