Impor di Sulsel Meningkat, Ekspor Malah Anjlok

Rabu, 16 Desember 2015 | 20:14 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Sutriani Nina - Go Cakrawala

Halaman 1

Makassar,GoSulsel.com – Nilai impor Sulawesi Selatan, sebesar USD91,06 juta, terjadi peningkatan sebesar 16,47 persen, November lalu, bila dibandingkan dengan nilai impor Oktober 2015. Secara komulatif (Januari-November 2015) bila dibandingkan dengan nilai impor pada Januari-November 2014 mengalami peningkatan 19,13 persen.

Sesuai data yang dihimpun Badan Pusat Statistika (BPS), Komoditas impor Sulawesi Selatan pada November 2015 dengan nilai terbesar adalah gandum-ganduman dengan nilai sebesar USD22,62 juta; disusul oleh bahan bakar mineral dengan nilai sebesar USD15,20 juta; benda-benda dari besi dan baja dengan nilai sebesar USD13,84 juta; dan ampas/sisa industri makanan sebesar USD12,29 juta.

Menurut Kepala BPS Nursam Salam, Lima negara pemasok utama barang impor ke Sulawesi Selatan pada November 2015 adalah Singapura, Tiongkok, Jepang, Kanada dan Australia.

Besarnya nilai impor dari kelima negara tersebut masing-masing sebesar USD18,42 juta untuk Singapura, USD16,31 juta (Tiongkok), USD11,45 juta (Jepang), USD10,09 juta (Kanada), dan USD9,14 juta (Australia).

“Kelima negara tersebut memasok barang impor dengan nilai sebesar USD65,41 juta atau 71,83 persen dari total nilai impor Sulawesi Selatan,” Kata Nursam, di kantornya, Rabu (16/12/2015).

Halaman 2

Impor Sulsel periode Januari-November 2015 naik 19,13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara dengan nilai impor terbesar selama periode tersebut adalah Singapura sebesar USD209,3 juta, Tiongkok sebesar USD172,32 juta, disusul Rusia sebesar USD146,4 juta, Australia sebesar USD116,2 juta, dan Kanada sebesar USD56,79 juta.

Sementara itu, menurut Pengamat Ekonomi, Marsuki DEA mengatakan bahwa memang kondisi kegiatan perdagangan luar negeri Sulsel selalu dalam kondisi impor lebih besar dari ekspornya.

“Hal ini disebabkan jumlah kebutuhsn terhadap barang-barang impor jauh lebih besar dibading yang diekspor. Komoditas impor tersebut meliputi 10 yang terbesar, dinilai adalah bahan-bahan kimia, karpet dan alas kaki, aluminium, sereal-tepung dan susi, kain khusus, dan yg terakhir terbesar dalam triwulan III juga keperluan peralatan pesawat dari Rusia,” jelasnya ketika dikonfirmasi.

Sedangkan ekspor sangat terkonsentrasi hanya pada sektor-sektor primer pertanian yang jumlah dan harganya sangat tidak menentu. Ekspor terbesar dari hasil penjualan nikel, cokelat olahan dan rumput laut. “Kesemuanya itu harga internasionalnya sangat berfluktuasi,” klaimnya.


BACA JUGA