Pagandeng Manisan, Fort Rotterdam, Putus Sekolah, Anak Putus Sekolah
Para pengunjung Benteng Rotterdam sedang membeli manisan yang dijual Rahmat, Rabu (27/12/2015). (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Habis Putus Sekolah, Terbitlah Pagandeng Manisan di Fort Rotterdam

Jumat, 01 Januari 2016 | 08:15 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Setahun belakangan ini, siang berarti jadi pagandeng manisan bagi Rahmat Hidayat. Ia biasanya berjualan di Fort Rotterdam dan sekitarnya.

Rahmat, demikian ia disapa, adalah satu dari sekian anak-anak di negeri ini yang putus sekolah. Dan sebagai pengisi waktu, ia memilih menjajakan jualan tetangganya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Saya baru setahun jualan manisan. Dulunya masih sekolah dan terpaksa harus berhenti sekolah,” ujar Rahmat ketika bercakap-cakap dengan GoSulsel.com, Minggu (27/12/2015).

Siang itu Rahmat membawa keranjang berwarna biru. Di dalamnya berisi puluhan manisan mangga, kedondong, dan nenas. Tak ada gurat sedih tampak di wajahnya. Ia menjalani aktivitasnya dengan cukup santai meski harus putus sekolah.



Rahmat memang berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang beruntung. Ibunya adalah ibu rumah tangga dan ayahnya pengayuh becak di sekitaran Jl Metro Tanjung Bunga hingga Jl Nusantara. Pendapatan orang tuanya tak seberapa. Sebab itu, segala hasil keringatnya utuh diberikan ke ibunya.

Halaman 2

“Hasil dari jualan manisan setiap harinya saya kasi mamakku,” ujar Rahmat.

“Semuanya,” katanya lagi.

Dalam sehari, Rahmat biasa mendapatkan Rp 30 ribu. Namun, menurutnya, angka itu bisa juga kurang jumlahnya.

Selain Rahmat, di Fort Rotterdam juga ada anak lain yang berjualan manisan. Seperti Pace, yang tak lain adalah teman Rahmat sendiri. Namun, tuan manisan yang mempekerjakan mereka berbeda.

“Biasanya saya sama temanku, Pace, janjian ketemu di benteng tiap Sabtu dan Minggu. Setelah sehabis ashar, saya ke Anjungan lagi jualan di sana sampai malam,” kata Rahmat, menjelaskan ritme kerja mereka.

Halaman 3

Harga manisan yang ditawarkan Rahmat Rp 2 ribu per bungkus. Di dalam kemasannya, terdapat 2 hingga 3 iris manisan mangga, kedondong, dan nanas. Tak lupa garam dan cabe yang ditumbuk halus.

Meski berperan hanya sebagai penjual, namun ternyata ia cukup menguasai pembuatan manisan ini.

“Kalau cara bikin manisan gampangji. Mangga mengkal direndam di air yang sudah dikasi gula sama garam, ditinggal dalam toples sampai 2 hari. Setelah itu dijualmi,” jelasnya.

Irisan-irisan manisan buah jualan Rahmat terlihat cukup besar. Hal ini pun diakuinya sebagai satu strategi tuannya menjadikan pembeli senang dengan jualannya.

Baik Rahmat atau rekannya, tampaknya sadar bahwa menjual manisan adalah pilihan praktis untuk bertahan hidup. Dibandingkan menghabiskan waktu bersekolah di tengah kondisi kelas bawah perekonomian keluarganya.

Berikut foto-fotonya:

Halaman 4

Pagandeng Manisan, Fort Rotterdam, Putus Sekolah, Anak Putus Sekolah

 

Halaman 5

Pagandeng Manisan, Fort Rotterdam, Putus Sekolah, Anak Putus Sekolah

 

Halaman 6

Pagandeng Manisan, Fort Rotterdam, Putus Sekolah, Anak Putus Sekolah

(*)


BACA JUGA