Nurlina, Sablon, Sablon Makassar, Sablon di Makassar
Nurlina. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Nurlina, Cewek Penyamblon Pertama di Makassar

Selasa, 05 Januari 2016 | 17:10 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Perkembangan jasa sablon baju di Makassar, membuat para pengrajin muda Kota Makassar bersaing untuk menggaet costumer-nya. Salah satunya Nurlina. Ia adalah pemilk Ratu Sablon di Jl Perumahan Mangga 3 D3/14.

Nurlina atau yang kerap disapa Lina ini adalah pemilik usaha penyablonan bernama Ratu Sablon. Selain jadi pemilik, ia juga terjun langsung menggarap usaha sablonnya. Tentu karena tangannya telah begitu lincah memainkan peralatan sablon secara manual. Kini dirinya dianggap sebagai perempuan satu-satunya yang aktif berwirausaha penyablonan.

“Banyak orang bilang, saya perempuan pertama bede’ yang terjun langsung dalam pengolahan sablon dan baju. Itu yang biasa diungkapkan oleh costumer-ku setiap mampir memesan baju di sini,” ujar Lina saat bercakap-cakap dengan GoSulsel.com, Kamis (31/12/2015).

Jasa cetak grafis atau printing memberikan pendapatan yang cukup menjanjikan. Lina biasanya kebanjiran orderan sehingga mendapat keuntungan yang terbilang fantastis. Apalagi untuk seumuran dirinya.



“Umur baru 25 tahun. Usahaku baru berjalan setahun yang lalu. Kalau dilihat dari keuntungannya, cukup menjanjikan ya. Yah, bisa sampai 20 hingga 30 juta omzetnya. Kalau untung bersihnya sekitar 5 sampai 7 juta rupiah per bulannya,” beber Lina.

Halaman 2

Lebih lanjut menurutnya, untuk mendapat pelanggan tetapnya, mulai pembukaan perdananya hingga sekarang, ada tips tersendiri. Tips itu adalah memberikan pelayanan yang terbaik hingga akhirnya pelanggan pun akan membiak.

Di tempat usaha Lina, orang-orang bisa pesan per lembar atau per lusin. Motif sablonnya terserah pelanggan juga.

“Bisa pesan lusinan, bisa pesan per lembar dengan motif sablon yang pelanggan inginkan. Kalau ambil per lusin Rp 55 ribu dan kalau ambil per lembarnya Rp 75 ribu dengan kain yang tentunya kualitas terbaik,” katanya.

Lina mengaku, awal mula dirinya terjun ke dunia wirausaha sablon ini karena ingin coba-coba. Berawal dari keingintahuan yang tinggi, akhirnya Lina bertaruh untuk menekuni bisnisnya.

“Menjadi penguasaha itu tidak harus stagnan, punya modal yang banyak, melainkan mencoba dan mampu memprediksi keinginan pasar,” imbuhnya.

Halaman 3

Meski baru setahun lebih bergelut, penghargaan yang diraihnya ternyata cukup banyak. Salah satunya dari Dinas Pemuda dan Olahraga kategori Wirausaha Pemuda. Brand personal-nya juga sudah dikenal di masyarakat. Terlihat dari berbagai mitra usahanya yang juga telah merambah ke beberapa instansi dan perusahaan.

Setelah mampu mengembangkan sablonnya, kini Lina menggarap usaha yang lain, yaitu CV Tiga Atap dan juga Co Founder dari Maruwa Art Screen Printing. Selain itu pula, ia juga aktif di berbagai organisasi dan komunitas dari HIPMI Campus, IIBF, YOT, dan beberapa komunitas yang lain.(*)


LIHAT JUGA