Pos Siskamling, Siskamling, Begal, Danny Pomanto
Seorang warga tengah duduk di sebuah Pos Siskamling di Makassar. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Siskamling di Makassar, Nasibnya Kini di Tengah Kepungan Aksi Begal

Selasa, 19 Januari 2016 | 14:54 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Sistem Keamanan Lingkungan atau Siskamling punya sejarah panjang di negeri ini. Berawal dari jaman kolonial Belanda. Kala itu, sejumlah pos dibangun di daerah-daerah tertentu. Fungsinya guna mengawasi gerak warga yang lebih dulu menghuni jagat nusantara ini.

Sistem ini diadopsi pula oleh Pemerintah Jepang ketika menginvasi negeri ini. Begitu pula dengan fungsinya.

Tapi keadaan lalu berbalik, setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kedaulatan Nusantara yang beralih ke nama Indonesia. Orang-orang Nusantara yang awalnya jadi obyek pantauan sistem ini lantas jadi subyek. Sedangkan obyeknya adalah orang-orang Belanda dan Jepang.

Seiring berjalannya negara ini, yang diawasi pun berubah jadi warga dari negeri ini sendiri. Yakni mereka yang hendak membobol rumah warga. Sistemnya, warga berkeliling ke berbagai arah di sekitar lingkungannya. Berbagai sinyal pun dikirim ke sesama peronda menggunakan bunyi kentongan yang diatur jumlah ketukannya, sesuai pesannya.



Namun, bagaimanakah kini nasib sistem keamanan ini di Makassar?

Halaman 2

Menurut pantauan GoSulsel.com, beberapa Pos Siskamling kini banyak yang tak berfungsi dengan baik. Bahkan tak berjalan lagi. Seperti Pos Siskamling yang ada di Jl Perumnas Tamalate 4.

Warga sekitar jalan itu membenarkan hal itu. Eko (24) mengatakan, pos siskamling di daerah kompleks tempat tinggalnya kini sudah kelihatan usang karena tidak difungsikan lagi. Berbeda pada awal-awal didirikannya sekitar 10 tahun lalu.

“Tidak adami orang yang mau perhatikan ini Siskamling. Padahal, dulunya ini dipake buat pantau ini kompleks. Tapi sekarang tidak adami. Bahkan lebih parahnya lagi, dipakeji sebagai tempat berteduh kalau hujan. Karena siapa juga mau tempati untuk ronda, na kotor sekali,” ujar Eko saat bercakap-cakap dengan GoSulsel.com, Senin (18/01/2016).

Lapuk dan berjamur, itulah kondisi Pos Siskamling yang pernah digunakan segelintir orang tua yang menjaga tiap kali mendapat jatah bertugas. Namun di era modern ini, non-aktifnya tempat danĀ  sistemnya juga dipengaruhi oleh rasa kebersamaan antar tetangga di kalangan warga. Apalagi di kalangan orang-orang mudanya.

“Soal penyebabnya, saya kurang begitu tahu. Tapi yang jelasnya, memang sosialisasi pemuda saat ini sudah kurang di daerah ini. Mungkin karena sibuk kerja dan langsung beristirahat sehabis melakukan kegiatan,” ungkapnya.

Halaman 3

Lain halnya dengan fungsi Siskamling di Kompleks Minasa Upa di Jl Hertasning Baru. Bangunan Pos Siskamlingnya yang berwarna utama jingga ini jadi pusat seluruh kegiatan sosialisasi. Amiruddin (52) yang ditemui GoSulsel.com di sekitar bangunan itu, membenarkan jika saat ini pos ronda yang berusia 5 tahun itu masih difungsikan.

“Dibangun kurang lebih ada sekitar 5 tahun yang lalu sampai saat ini masih berfungsi dengan baik untuk melakukan penjagaan oleh pemuda yang tinggal di sini, biasa juga ada orang tua. Namun mayoritas itu orang tua yang cari hiburan,” ujar Amiruddin sambil tertawa kepada GoSulsel.com, Minggu (17/01/2016).

Amiruddin juga mengutarakan pendapatnya, bahwa tempat ini juga jadi indikator kadar silaturahmi antar warga di sebuah lingkungan. Untuk menarik perhatian warga, di pos ini biasa diagendakan berbagai agenda, seperti minum kopi sambil bermain domino.

Saat ini, di tengah aksi begal yang marak, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, menyeru kepada seluruh kecamatan serta lurah untuk mengembalikan fungsi Siskamling. Langkah ini jadi salah satu sarana baik untuk mengalihkan fokus orang-orang muda untuk lebih menggunakan waktu dan energinya dalam kebersamaan yang positif.(*)


BACA JUGA