Distro, Distro di Makassar
Seorang anak muda sedang memilih-milih pakaian dari tempat Maemunah di Jl Hertasning, Rabu (20/01/2016). (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Distro Jalanan di Makassar, Puaskan Gairah Fashion Orang-Orang Muda Berkantong Tipis

Jumat, 22 Januari 2016 | 14:00 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.comFashion adalah salah satu fokus bagi sejumlah orang, apalagi yang tak ingin ketinggalan jaman. Dalam lingkaran itu tergolong juga orang-orang muda di kota ini.

Salah satu tempat untuk mendapatkan produk-produk fashion itu adalah distro atau distribution store. Sejatinya, distro adalah toko yang menjual produk-produk fashion yang dititip oleh pembuat pakaian. Tapi ada juga sebagian pemilik distro yang memproduksi sendiri produk-produk jualannya.

Distro pada umumnya berupa bangunan permanen yang di dalamnya didesain dengan konsep interior masing-masing pemiliknya. Harga per lembarnya biasanya sampai ratusan ribu rupiah.

Namun, jika Anda turun ke beberapa jalan di kota ini, maka pemandangan berbeda akan Anda hadapi. Bila hari mulai memekat, beberapa pedagang kali lima dengan sistem car shop clothing menginvasi bahu jalanan. Mereka memamerkan deretan pakaian yang beraneka ragam warnanya.



Seperti Maemunah, yang saat ditemui sedang asyik berbincang kepada karyawannya. Dengan mengenakan kerudung dan celana jeans abu-abu, ia tampak lihai memerhatikan tiap celah gantungan display yang kosong diambil pembeli. Ia mengaku sudah beberapa bulan ini menggeluti usaha distro jalanan. Ini ditekuninya karena dinilai sangat menguntungkan.

Halaman 2

“Saya baru 8 bulan, belum cukup setahun di sini menjual baju distro. Tujuanku menjual karena saya pikir jualan baju seperti ini di pinggir jalan banyak peminatnya dan pasti kebanyakan anak muda,” kata Maemunah kepada GoSulsel.com, Rabu (20/01/2016).

Dilihat dari animo masyarakat, kata Maemunah, pakaian merupakan sesuatu yang tak akan habis dicari orang. Sebab menurutnya, ini sudah jadi kebutuhan primer manusia.

Berbagai pedagang distro yang berada di sisi bahu jalan juga tak luput dari kesan promosi yang cukup menggiurkan. Ada yang bahkan sampai menjual Rp 100 ribu per 3 lembar. Tentu saja, ini jadi trik jitu dalam menarik pelanggan.

“Baju sudah menjadi kebutuhan mi. Pasti semua orang cari baju dan celana. Apalagi kalau tertulismi Rp 100 ribu 3 lembar, siapa tidak mau singgah? Tapi harus pintar baca tren juga, dong! Biar banyak yang tertarik,” ujar Maemunah.

Barang-barang fashion jualan Maemunah bukanlah barang titipan dan bukan pula produksinya sendiri. Ini menjadikan usaha distro miliknya menggeser definisi dari istilah ini. Bahkan bukan cuma perempuan berusia 46 tahun ini yang membeli langsung jualannya. Ia mengklaim, bahwa seluruh pakaian yang dijualnya di pinggir jalan merupakan dagangan konveksi yang berasal dari Surabaya dan Bandung yang dibeli dengan harga cukup murah.

Halaman 3

“Satu karungnya biasa saya ambil sekitar Rp 500 ribu. Saya juga kurang tahu berapa isinya di dalam. Tapi kalau mau dijual juga, dilihat dulu dari kainnya. Kalau tidak terlalu bagus kainnya, kita jual Rp 100 ribu 3. Tapi kalau yang bagus, kita jual Rp 60 ribu 1 lembar,” katanya.

Harga yang relatif murah juga berlaku pada celana yang dijual Maemunah. Mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 220 ribu rupiah per lembarnya.

Selain itu, GoSulsel.com juga menyambangi beberapa pembeli yang sedang asyik memilah pakaian yang dianggapnya modis.  Aswan (25) misalnya yang datang bersama rekannya, Ulfa (24). Mereka berdua mengaku sangat tertarik dengan jualan seperti ini.

“Distro pinggir jalan murah sekali, Rp 100 ribu 3 lembar, pastinya tertarikki’ beli. Tapi saya kalau mau beli pakaian kayak begini, pilihka’ yang bagus kainnya. Persoalan gambar, yang penting tidak neko-neko,” ujar Aswan.

Menurut Aswan, Makassar yang saat ini sedang dilanda demam pakaian distro pinggir jalan sangat membantu orang-orang muda yang ingin bergaya namun dengan budget ringan.

Halaman 4

“Cari yang bagus tapi murah. Biar bisa tongki bergaya,” ungkapnya.

Saat ini, Maemunah sudah mengantongi rupiah yang didapatkannya dari menjual pakaian pinggir jalan. Hal itu dianggapnya sebagai berkah bagi dirinya. Juga bagi orang-orang muda yang ingin bergaya dengan modal relatif rendah.(*)


BACA JUGA