Bentor, Bentor di Makassar, Jalan Goro
Yunus (kanan) sedang duduk di bentornya. Eksterior dan interior dari bentornya ia desain sedemikian rupa untuk menambah semangatnya bekerja. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Lihat Lebih Dekat Eksterior & Interior Bentor Milik Yunus di Jl Goro

Selasa, 26 Januari 2016 | 10:55 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Saat legalitas, faktor keamanan, dan desain teknis becak motor (bentor) sedang dibahas, GoSulsel.com mencoba mengajak melihat lebih dekat eksterior dan interior salah satu bentor di Makassar, yakni milik Yunus.

Jika tak ada penumpang, Yunus biasanya ngetem di Jl Goro yang terhubung dengan Jl AP Pettarani, tepatnya di sudut di bawah rindang pohon mangga. Ia beserta kerabatnya menjadikan lokasi ini sebagai posko bentor, untuk menunggu penumpang tiap pagi hingga siang hari. Juga sebagai tempat mereka menghibur diri sendiri dengan menyanyikan lagu yang dibunyikan dari bilik bentornya.

“Kalau tidak ada penumpang, cukup kita hibur diri saja di sini sambil dengar lagu. Sambil itu kita menarik perhatian calon penumpang. Gunanya juga sebagai tanda kalau kita ada di sekitar sini,” kata Yunus saat bercakap-cakap dengan GoSulsel.com, Kamis (21/01/2016).

Musik bentor umumnya didominasi oleh musik disco, dangdut, serta lagu daerah. Genre-genre musik ini silih berganti terdengar mengalun, sesekali beriringan dengan suara para tukang bentor sendiri.



“Tidak setiap hari ji kita dengar lagu. Karena biasa juga kita sadar diriji, karena bisa mengganggu pengendara lain. Lagipula kita juga biasa ngobrol. Jadi tidak enak ngobrol sambil putar lagu,” ujar lelaki berusia 36 tahun ini.

Halaman 2

Ayah dari 2 anak ini menggandeng bentor sebagai mitra kerjanya tiap hari. Sejak tahun 2013 ia mulai berkecimpung dengan memanfaatkan motor bekasnya. Motor itu dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bentor.

Sebelumnya, lelaki asal Makassar ini bekerja sebagai penarik becak. Karena menurutnya mendayung becak membuang banyak tenaga, akhirnya ia mulai mencoba jadi tukang bentor.

“Sekarang kan jamannya teknologi. Ada motor, kenapa tidak kita jadikan pengganti becak. Lagipula kalau narik becak, biasa capekki mendayung. Ini tinggal tancap gas saja,” katanya.

Tak cukup dengan menyulap motor bekasnya jadi bentor, Yunus dan kawan seprofesinya pun memberi sentuhan pada bagian eksterior dan interior alat bekerja mereka ini. Agar tampil menarik, mereka memberi beberapa aksesori seperti tape recorder dan speaker yang terdapat di bawah bangku penumpang bentor. Selain menambah semangat, ia juga memiliki rasa bangga sebagai pemilik dengan kondisi bentornya yang seperti itu.

“Ada rasa semangat, ada rasa bahagia ketika kita lihat bentorta’ lengkap dengan accesories, warna bentor, dan gambar di sisi bentor. Kayakji mobil. Kalau kita punya kendaraan na baguski dilihat, ada rasa kebahagiaan sendiri,” ungkapnya.

Halaman 3

Tidak tanggung-tanggung, untuk melengkapi interior bentornya, Yunus merogoh receh yang tidak sedikit, mulai dari pesan rumah bentornya, cat gambar, serta accesories musik yang saat ini melekat dengan passion bentor yunus.

“Kalau ditotalkan semua, ada sekitar 6 juta, karena beli rumah bentornya itu 4,5 juta, terus bamper depan sekitar 500 ribu, gambar bentor, 200 ribu dan tape dan sound system itu 1,5
juta,” katanya.

Yang tak kalah menariknya, gambar yang terdapat di bagian sisi luar bentor. Di bagian jendelanya, tertempel stiker huruf-huruf yang merangkai kalimat: KAYA BELUM TENTU TAPI MATI IT PASTI. Juga stiker bertuliskan BLADE dengan gambar sayap.

“Gambar untuk menyemangati diri ji itu, sekaligus juga sebagai model untuk bentor,” jelasnya.

Pada pertemuan ini, Yunus berbagi cerita tentang pengetahuannya mengenai bentor. Sepengetahuannya, awal mula bentor berkembang di Manado, Sulawesi Utara. Menurutnya, kota ini adalah induk bentor. Kendaraan 3 roda ini dikembangkan oleh salah seorang warga yang berada di sana untuk jadi daya tarik wisatawan. Setelah itu, di Parepare hingga akhirnya masuk ke Makassar.

Halaman 4

“Awal mulanya kalau tidak salah tahun 2000-an mulai muncul bentor di Manado. Nah, bentor yang ada di Makassar semuanya diperoleh dari Manado. Rangka rumahnya saja yang kita beli dari sana. Setelah itu, dipelajari sama orang di sini. Akhirnya bisa miki sendiri bikin rangkanya,” terangnya.

Kendati kini nasib bentor sedang terpuruk setelah isu bakal dihapusnya kendaraan roda 3 ini, Yunus dan para kerabatnya berharap kendaraan ini bisa dipatenkan oleh pemerintah kota.

Berikut foto-fotonya:

Halaman 5

Bentor, Bentor di Makassar, Jalan Goro

 

Halaman 6

Bentor, Bentor di Makassar, Jalan Goro

(*)


BACA JUGA