Limbah Industri pada Kerang Laut Penyebab 63 Warga Jeneponto Keracunan

Rabu, 31 Agustus 2016 | 18:23 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

Makassar, GoSulsel.com — Puluhan warga Desa Mallasoro keracunan kerang laut (kerang bulu atau tude) sejak Sabtu 27 Agustus. Kejadian ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dirawat di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Mallasoro dan beberapa Rumah Sakit.

Pakar Ilmu Toksikologi dan Pencemaran Laut Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan Unhas, Prof Akbar Tahir, menduga kemungkinan besar kerang laut yang dimakan warga dusun Dusun Bungung Pandang tercemar racun. Hanya saja ini memerlukan analisis laboratorium.

pt-vale-indonesia

“Kemungkinan kerannya mengandung toksin laut dari dinoflagelata dan terakumulasi dalam tubuh korban akibat mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak. Efeknya memang bisa berlangsung lama setelah konsumsi,” jelasnya saat dikonfirmasi GoSulsel.com, Rabu (31/8/2016).

Dinoflagellata disebut juga Pyrrophyta merupakan organisme uniseluler dengan ukuran selnya yakni antara 25µm – 1000µm, terdapat juga spesies yang tumbuh dengan rantai yang panjang atau pseudocoloni.

Habitat Dinoflagellata berada di dalam air laut, meskipun beberapa jenis hidup di air tawar. Di dalam laut seringkali terdapat sinar-sinar menyala berwarna biru terutama pada malam hari. Asal sinar tersebut dihasilkan oleh organisme ini.

Penanggung jawab laboratorium Kimia Unhas, Dr Nursiah Lanafie menambahkan jika toksin yang terdapat pada kerang laut tersebut kemungkinan mengandung racun sianida. Hal ini didasarkan pada gejala yang dialami warga yang keracunan.

“Kalau dari gejalanya kemungkinan karena racun sianida, kalau dari logam berat kemungkinan bukan karena ini akan timbul efeknya sangat lama. Sianida ini merupakan salah satu limbah kimia yang dihasilkan oleh industri,” tambahnya.

Halaman:

BACA JUGA