(FOTO: Makam Syekh Yusuf di Liukang, Sungguminasa, Gowa. Makam ini ramai dikunjungi oleh peziarah yang hendak menghayati makna perjuangan Si Tuanta Salamaka/Kamis, 15 September 2016/Marwan Paris/GoSulsel.com)

Misteri 5 Makam Syekh Yusuf, Ulama Besar Sulawesi Selatan

Jumat, 16 September 2016 | 11:58 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Marwan Paris - GoSulsel.com

Gowa, GoSulsel.com – Ada hal paling menarik mengenai Syekh Yusuf, wali besar Sulawesi Selatan di abad ke 17. Yaitu terkait makam beliau yang berada pada 5 tempat yang berbeda. Fenomena ini menimbulkan sebuah pertanyaan, kenapa bisa makamnya lebih dari satu?

Gosulsel.com pun mencoba menelisik fenomena tersebut ke makam beliau yang terletak di jalan Syekh Yusuf, Liukang, Kabupaten Gowa. Dari keterangan seorang juru kunci makam, Mujibur Rahman bin Abdul Jalil, Ia mengakui bahwa benar adanya bahwa makam beliau terletak di 5 tempat berbeda.

“Memang benar kalau makam beliau ada di 5 tempat. Salah satunya di makam ini,” tegasnya.

Ia pun melanjutkan makam-makam lainnya itu terletak antara lain ada di Banten, Sumenep Madura, Caylon di Srilankan dan kampung Macasar di Afrika Selatan. Adanya makam lebih dari satu dikarenakan Syekh Yusuf semasa hidupnya memiliki banyak pengikut yang ada di setiap tempat persinggahannya dalam jalur pelayaran dari makassar ke Arab Saudi. Sedangkan Afrika Selatan adalah tempat pengasingannya ketika melawan kolonial VOC. Namun di tempat itu pun ia masih bisa tetap berjuang menyiarkan agama Islam, dan meski jauh dari kampung halaman Ia masih punya pengaruh terhadap warga Afrika.

Pada saat wafatnya beliau di Afrika, kabarnya pun tersiar hingga ke nusantara termasuk di kerajaan Gowa. Ada desas desus yang mengatakan kabar itu sampai melalui kekuatan magis, sehingga kerajaan Gowa cepat mengetahuinya. Namun proses pemulangan jenazah Syekh Yusuf bukanlah perkara mudah, kata Mujibur, pemulangan itu tidak mendapat izin dari Kolonial VOC.

“Ketika itu kompeni menolak, ada berbagai macam alasan yang dilontarkan kepada raja Gowa, Sultan Abdul Jalil, Raja Gowa ke 14 yang berkuasa pada masa wafatnya Syekh Yusuf. Salah satunya karena kerajaan Gowa waktu itu menolak pembayaran pajak/upeti kepada kompeni. Dan ketakutannya akan pengaruh pengikut Syekh Yusuf di Nusantara,” jelasnya.

Berbagai cara pun ditempuh termasuk menyiapkan pasukan Tobarani dari kerajaan Gowa. Sultan Malikusaid (ipar raja) pun memberikan amanah pada pasukan. ‘Jangan pulang jika bukan jasad asli Syekh Yusuf’. Hingga negosiasi pemulangan jenazah Syekh Yusuf yang dilakukan oleh Sultan Abdul Jalil, baru berhasil setelah enam tahun lamanya, yaitu pada tahun 1705.

Ketika perjalanan pulang itulah, jenazah Syekh Yusuf sempat singgah di beberapa tempat, seperti Sri Lanka, Banten, Sumenep (Madura), dan terakhir Makassar. Daerah-daerah itu dikenalĀ  banyak tinggal murid dan pengikut tarekat Khalwatiyah. Sehingga setiap pengikutnya berinisiatif membangun makam beliau di tempatnya masing-masing.

Ia juga meyakinkan, bahwa jasad yang asli itu berada di Makassar. Sedangkan makam di tempat lain itu berupa jubah dan sorban. Di Banten, yang dimakamkan adalah tasbih, dan di Sumenep juga berupa jubah dan sorban.

Halaman:

BACA JUGA