(FOTO: Tradisi Pattakkang di Kabupaten Gowa berisi berbagai kegiatan, salah satunya yaitu Attoeng atau berayun/Kamis, 22 September 2016/Marwan Paris/GoSulsel.com)

Mengenal Pattakkang, Tradisi Sekali dalam Sembilan Tahun di Gowa

Kamis, 22 September 2016 | 06:29 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Marwan Paris - GoSulsel.com

Gowa, GoSulsel.com – Dilaksanakan hanya sekali selama sembilan tahun di dusun Borong Rappo, Desa Sokkolia, kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Pattakkang merupakan sebuah tradisi adat turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat.

Sebagaimana dipaparkan Hj. Sehani Dg. Ngawing kepala dusun Borong Rappo kepada Gosulsel.com, Rabu (21/9) di lokasi pesta adat.

“Namanya Pattakkang, acara tradisi adat ini diadakan satu kali dalam sembilan tahun. Acaranya juga dilaksanakan selama sembilan hari sembilan malam,” paparnya.

Selama sembilan hari sembilan malam lamanya pesta adat ini digelar. Berbagai macam rangkaian acara pun dilaksanakan secara tradisional. Seperti attoeng (berayunan), ma’raga, (bermain bola raga), a’nganni (memintal benang), a’teaja, dan a’bunene.

Suasana acara serba tradisional, mulai dari pakaian adat yang dikenakan warga, baik pakaian perempuan, laki-laki, anak kecil dan orang tua pun memakai pakaian adat.
Di sebuah lapangan kecil dibangun satu rumah tradisional terbuat dari bilah-bilah bambu ditopang dengan puluhan tiang. Tangga untuk naik ke atas rumah juga terbuat dari bambu. Mirip dengan rumah lotang di toraja yang di buat khusus untuk suatu acara tradisional. Di dalam rumah, ada puluhan nenek duduk melingkar bersama sambil a’nganni (memintal benang).

Di depan rumah, dua buah tiang dari batang pohon pinang setinggi atap rumah. Terhubung sebuah tiang melintang di atasnya. Dua buah rotan panjang terjuntai dan terikat di sebuah dudukan yang dianyam, membentuk sebuah ayunan besar. Untuk mengayunkan orang yang duduk di atasnya. Sebuah tambang yang terikat ditarik sekelompok lelaki berpakaian adat. Yang sekali tarik dapat membuat orang yang duduk terayun setinggi atap rumah.

Prosesnya terlihat seperti atraksi akrobat yang mendegup jantung. Tapi semua telah dijamin oleh tetua adat. Dan bahkan proses ritual ini dianggap sakral bahkan membawa berkah bargi warga. Di sekitar ayunan beberapa orang sanro memberikan perlindungan bagi warga yang ingin diayun.

Halaman:

BACA JUGA