Rumah Pintar KPU Makassar Belum Akomodir Difabel

Jumat, 31 Maret 2017 | 14:36 Wita - Editor: Syamsuddin - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Komisi Pemilhan Umum Daerah (KPUD) Kota Makassar meluncurkan aplikasi Sistem Data Pemilih Online (SIDOEL), yang merupakan sistem berbasis android. Aplikasi tersebut bisa mengakses Daftar Pemilih Tetap (DPT), pendaftaran DPT dan laporan masyarakat. Tidak hinya itu KPUD Makassar juga telah melauncing ‘Rumah Pintar Pemilu’ yang diberi nama ‘Balla Panrita’.

Kendati begitu, KPUD Makassar tidak mengakomodir kepentingan DPT secara keseluruhan, hal ini dikatakan oleh perwakilan organisasi Difabel Sulawesi Selatan, Sekretaris Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Sulawesi Selatan, Nur Syarif Ramadhan.

Syarif mengaku dirinya hadir dalam peluncuran itu mengakui terkesan dengan tata letak Rumah Pintar Pemilu itu. Hanya saja soal aksesibilitas, dia tak mampu mengakses secara langsung data-data yang ditampilkan.

“Tidak ada kesulitan saat berada di sana dan ingin masuk. Meski tidak ada braille yang mengarahkan kesana. Tapi dari sisi difabel saya belum menemukan akses bagi difabel.” kata Syarif, Jumat (31/3/2017).



Menurutnya dia merasa gamang dalam ruangan itu karena kesulitan untuk mengetuhi informasi terkait pemilu yang kesemuanya dalam bentuk tulisan. “Termasuk buku-buku tentang Pemilu. Nah itu dia karena semua buku dalam bentuk tulisan. Sementara netra akan cepat mengakses buku dengan teks braille. Dalam ruangan. Alangkah baiknya data yang terpampang baiknya dalam bentuk audio,” harap Alumni Pendidikan Kewareganegaarn UNM ini.

Dia melanjutkan bahwa data Difabel yang dimiliki KPUD juga tidak sesuai dengan data lapangan, menurutnya saat ini Difabel di Makassar mencapai 969 orang. Kendati begitu dia mengaku telah melakukan komunikasi intens dengan KPUD terkait data tersebut.

“Kita memang sudah Komunikasi dan KPU siap bekerjasama dengan teman – teman difabel, karena data saat ini belum sesuai dengan data lapangan, masih banyak difabel yang belum terdata,” tandasnya.

Senada dengan yang disampikan pengurus PerDIK lainnya, Irawan Danu Amiruddin mengatakan KPU Makassar menyajikan semua informasi masih tentang KPU dan hasil kerjanya. Namun yang kurang dalam rumah pintar itu tarkait partai politik (parpol) dan visi dan misinya.

“Info ini penting mengingat mereka kontestan. Yang ada lihat hanya bendera partai, ” jelasnya.

Danu sapaan akrab Irawan Danu Amiruddin, juga mengatakan di dalam ruangan terdapat contoh alat peraga kotak suara tapi tidak ada alat peraga khusus difabel.

“Saya hanya melihat info terkait aturan atau syarat/regulasi terkait pemilihan. Sangat kurang informasi terkait hak warga negara, misalnya terkait kesetaraan hak, partisipasi pasca election dan lainnya. ” katanya.

Sebelumnya, Komisioner KPU Sulsel Faisal Amir mengungkapkan, Rumah Pintar Pemilu ditargetkan hadir di 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Sarana ini didesain dengan konsep satu pintu yang menjadi pusat pendidikan pemilih maupun calon pemilih.

“Salah satu tujuan sarana ini adalah mendorong perbaikan pengetahuan masyarakat tentang pemilu. Atau bisa dibilang menjadikan semura orang melek pemilu,” ujar Faisal.

Menurutnya, ada alasan khusus mengapa sarana ini disebut rumah pintar. Sebab orang awam sekalipun, yang masuk ke sana diyakini bakal memiliki cukup pengetahuan soal pemilu. “Lewat saja, sambil baca-baca, pasti tahu,” katanya.

Sementara Komisioner KPUD Makassar Divisi Data, Rahma Saye mengatakan, bahwa pihaknya telah berusaha untuk mengakomodir semua masyarakat, termasuk kaum Difabel.

“Itu sudah kita fikirkan, jadi nanti teman – teman difabel bisa mengakses di android, kan ada suara bisa pake sistem touch back, kalau pake sistem tock back mereka bisa mengikuti petunjuk – petunjuk yang ada,” singkat Rahma.(*)


BACA JUGA