Harapan Pemuda Maros di Tahun Politik 2018

Rabu, 03 Januari 2018 | 21:02 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

Maros, Gosulsel.com – Tahun 2018 merupakan tahun politik, dimana pada tanggal 27 juni 2018 akan dihelat Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak. Khususnya di Sulawesi Selatan, di tahun ini akan melangsungkan pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur. Sejumlah tokoh muda pun menaruh harapan pada momentum demokrasi tingkat daerah ini. 

Seperti yang diharapkan salah satu tokoh muda asal Camba Maros, Jabal Nur, yang mengatakan bahwa tahun 2018 adalah tahun krusial bagi eksistensi kalangan muda. Pemuda memiliki peran penting dalam keberlangsungan dan juga pengawalan demokrasi. 

“2018 ini merupakan tahun politik, dimana pemuda memiliki peran penting dalam menentukan arah daerah ke depannya. Sehingga, diharapkan agar anak-anak muda berani terjun berpartisipasi dan ikut serta mewarnai demokrasi,” ujar Jabal Nur, Rabu (03/01/2018).

Momentum politik tahun-tahun sebelumnya telah diketahui bersama, bahwa hegemoni kepentingan politik telah merusak pemikiran sehat kalangan pemuda. Ironisnya, akibat dari pengrusakan itu, tidak sedikit kalangan muda terseret pada keberpihakan kepentingan politik. 



“Saya rasa kita telah mencatat bahwa kerusakan itu telah terjadi. Sebagai pemuda, utamanya saat ini mesti jeli dan berfikir sehat demi masa depan dan kemajuan daerah khususnya Sulsel,” katanya. 

Hampir semua kalangan bersepakat bahwa 2018 ialah tahun politik dimana ada banyak hal yang mungkin akan terjadi. Gejolak dari manuver politik lewat isu bisa saja menimbulkan kekerasan dan lain sebagainya. Ia berharap kepada kalangan muda agar supaya mengedepankan kepentingan masyarakat, demi masa depan pemuda dan daerah. 

“Tahun 2018 ini pemuda mesti cerdas menampilkan hal profesional, berintegritas serta memegang teguh solidarisme. Demi kebaikan bersama,” lanjutnya. 

Selaras yang dikatakan oleh mantan pengurus cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Maros dua periode Muhammad Yusuf, bahwa hampir di setiap momen politik, praktik money politics (politik uang) hampir saja menjadi sebuah budaya, dimana kebanyakan masyarakat dengan tangan terbuka menunggu “uang politik”. 

Kebiasaan ini seakan menggerus akal sehat, sebab tidak lagi memikirkan apa yang menjadi masa depan dan kemajuan suatu daerah, “Hampir dikatakan bahwa tidak ada uang, tidak ada suara. Sepakat bahwa hal ini adalah masalah penting yang mesti diselesaikan dengan solusi jitu kalangan muda,” katanya. 

Sangat disayangkan jikalau masa depan mesti tergadai. Ada beberapa faktor yang membuat mudahnya money politic menjamur, yakni faktor persaingan, ekonomi, dan pengawasan. 

“Selamat tahun baru 2018, selamat datang tahun politik, pemuda mesti ambil andil dengan menjadi pemilih cerdas. Jangan biarkan suap menyuap dalam pesta demokrasi sebab sangat merugikan masyarakat dan negara,” tandas Yusuf.(*)

Keterangan gambar: Jabal Nur


BACA JUGA