Ichsan Yasin Limpo menyeka air matanya saat memberikan sambutan pada promosi gelar doktor baginya di Universitas Hasanuddin Makassar/Kamis, 8 Februari 2018/IST

Air Mata Haru Usai IYL Ujian Promosi Gelar Doktor

Kamis, 08 Februari 2018 | 15:53 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

Makassar, Gosulsel.com — Suasana haru menyeruak di Auditorium Prof Amiruddin, Unhas usai Ichsan Yasin Limpo (IYL) mempertahankan disertasi pada ujian promosi Doktor, Kamis (8/2/2018).

Ichsan yang telah resmi menyandang gelar Doktor dengan predikat cumlaude diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan-kesan, Ichsan meneteskan air mata tatkala mengenang almarhum ayahnya H Yasin Limpo.

“Terimakasih yang sebesar-besarnya, lebih khusus saya bisa mendapatkan gelar doktor ini, apalagi dengan predikat cumlaude. Saya persembahkan ini kepada H Yasin Limpo dengan Ibu, karena saya ingat pernah beliau mengatakan bahwa, kalau saya lihat kau punya panca indra yang baik, ada dua yang tajam. Saya yakin kau bisa jadi doktor dan professor nanti,” kenang Ichsan dengan getaran suaranya yang tersedu-sedu membuat membuat ribuan peserta diam dan seisi gedung pun hening.

Dia mengatakan, pesan dari ibunya itu ketika dia masih berstatus siswa Sekolah Dasar (SD). “Makanya setelah itu, saya teringat perketaan beliau,” tutur Ichsan.

Setelah itu, dia diam sejenak. Ichsan Kembali meneteskan air matanya dan tersedu saat mempersembahkan gelar itu kepada istri tercinta, Novita Madonza Amu Ichsan beserta anak dan keluarganya.

“Keberhasilan saya hari ini karena di samping saya ada istri dan anak yang hebat. Ada menantu, ada saudara-saudara saya dan ipar-ipar saya yang hebat memberikan motivasi dan bantuan sehingga saya seperti ini,” ucapnya.

Masih dengan suara yang tersedu-sedu dan tetesan air mata. Ichsan kembali mempersembahkan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada para dosen dan gurunya. Mulai dari SD hingga meraih gelar doktor.

“Kepada seluruh dosen saya. Guru-guru saya. Saya bisa seperti ini, karena guru yang mengajarkan saya dan dosen-dosen yang cerdas. Kepada seluruh sahabat-sahabat saya yang membantu dan seluruh rekan-rekan seanhkatan saya. Kesan saya bersama mereka luar biasa,” ucapnya.

Dia pun menceritakan saat menjalani kualih S3nya. Dia mengenang saat jadwal kuliah pukul 09.00, namun dia datang terlebih dahulu di kantin. Ichsan pun dikenal cepat tiba di kampus sebelum jadwal kuliah.

“Kenapa cepat sekali?. Karena saya lagi menikmati kemerdekaam saya . 17 tahun saya sebagai pejabat selalu protokoler. sekarang nikmat sekali karena saya bebas,” Ichsan kembali mengenang perjalanan panjanganya hingga mendapat gelar Doktor.

Di suatu hari, Ichsan tidak mengikuti ujian karena sesuatu hal yang diurus di Ibu Kota Jakarta. Kala itu, dia terpaksa dijadwalkan harus mengulang. Selama 4 hari berturut-turut dia menunggu dosen yang bersangkutan di Kampus (Ichsan tak ingin menyebut nama dosen).

Dia pun tidak pernah merasa lelah. Ichsan yang menerima tawaran bantuan dengan ikhlas untuk dipertemukan sama dosen yang bersangkutan menolak. Apa alasannya?

“Karena sebenarnya bukan keinginan dosen itu kasi menunggu saya. Mungkin ini pembalasan. Ada juga saya kasi tunggu seperti ini waktu saya masih Bupati. Hasilnya juga, saya jadi Doktor Cumlaude,” kata dia mengubah tangis menjadi senyum.

Lebih jauh, di hadapan ribuan peserta, dia berjanji. Dengan tegas, kelak jika dia diamanhkan menjadi Gubernur Sulsel. Hal yang paling pertama dia tandatangani adalah Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur, bahwa siswa tidak diwajibkan menggunakan seragam dan mendorong Kabupaten/Kota untuk tidak lagi wajib seragam.

“Karena yang mau sekolah bukan bajunya. Bukan sendalnya. Karena yang mau sekolah adalah otaknya,” tandasnya.(*)


BACA JUGA