Balitbangda Kembangkan Sutra Lewat Bintek Diversifikasi Produk

Kamis, 05 April 2018 | 15:38 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Mirsan - Go Cakrawala

Makassar, Go Cakrawala– Perkembangan industri sutra Sulsel saat ini masih dikuasai oleh beberapa perusahan BUMN. Hal ini membuat industri rumah tangga yang mengelola kain sutra kalah bersaing.

Hal ini mendorong Badan Penilitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sulsel ikut mengembangkan industri sutra Sulsel bekerjasama dengan Silk Solution Center Sulsel. Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk bimbingan teknik diversifikasi produk sutra tenun ikat di Desa Pasaka, Kecamatan Sabbang Paru, Kabupaten Wajo, Kamis (5/4).

Bintek ini dilakukan selama 20 hari, mulai pada tanggal 23 Maret sampai 14 April. Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari masyarakat penenun ikat Desa Pasaka, pelajar SMK Persutraan Wajo dan pengajar dari Silk Solution Center.

Kepala Balitbangda Sulsel, Iqbal Suhaeb mengatakan tujuan pelatihan ini untuk meningkatkan ketrampilan pengrajin pembuatan motif ikat, mendorong percepatan kebangkitan persutraan di Sulsel dan peningkatan kesejahteran masyarakat pelaku persutraan.

“Harapan kita, Sulsel dapat bangkit kembali sebagai sentra utama penghasil sutra nasional. Mengingat kondisi saat ini sutra dari China dan Thailand banyak mendominasi Sutra di Indonesia,” katanya.

Iqbal melanjutkan beberapa sentra sutra di Sulsel sudah berhenti beroperasi. Seperti di Pati Jawa Tengah dan Parepare Jawa Timur. Sementara, yang asa di Sukabumi, Garut dan Bogor produksinya juga semakin menurun.

“Kelemahan dari sentra yang ada diluar sulsel adalah dominan masih dikelola oleh BUMN dan juga masyarakat sekitarnya tidak terlalu familiar dengan persutraan,” jelasnya.

Dengan ada diversifikasi produk, kata Iqbal penghasilan penenun sutra akan mengalami peningkatan. Sebelumnya ongkos kerja untuk pakan ikat perkotak pelangkan (lokal panrung) sekitar Rp20 ribu namun setelah dimitrakan dengan asosiasi sutra menjadi Rp100 ribu – Rp250 ribu tergantung tingkat kesulitan.

“Bintek ini akan dilanjutkan pada tahapan berikutnya untuk jenis ikat lusi dan double. Bintek saat ini baru hanya jenis ikat pakan,” pungkasnya.(*)


BACA JUGA