(FOTO: Asem-asem rasa kapurung di RM Aroma Luwu, Makassar/Minggu, 20 Agustus 2016/Andi Nita Purnama/GoSulsel.com)

Kapurung Makanan Khas Luwu yang Menggugah Selera Makan

Senin, 20 Agustus 2018 | 15:06 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Ryan Saputra - Gosulsel.com

Malassar, Gosulsel.com – Bagi Anda pencinta makanan berbahan dasar sagu tentu tidak asing dengan masakan yang satu ini. Yah…, Kapurung, kuliner khas Luwu ini tidak hanya diminati warga lokal melainkan warga asing pun menggemari kuliner ini.

Di kabupaten asalnya Luwu, masyarakat menjadikan sagu sebagai sumber karbohidrat utama. Bahan pokok ini kemudian diramu sedimikian rupa hingga menghasilkan kapurung. Kuah kuning kapurung memiliki cita rasa asam yang menyegarkan.

pt-vale-indonesia

Adonan sagu dibuat dengan cara mencampurkan tepung sagu dengan air hingga encer, masukkan garam secukupnya dan taruh di mangkuk besar. Didihkan air panas dan langsung dicampurkan ke cairan sagu, tapi jangan diaduk. Tunggu sampai tepungnya menyatu baru diaduk seperti mengaduk dodol. Adonan kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil dengan menggunakan sumpit.

Sayuran yang dicampurkan pada kapurung antara lain kacang panjang, tomat, bayam, terong, jagung, dan yang paling unik adalah jantung pisang. Sementara sumber proteinnya berasal dari ikan, udang, dan ayam.

Ketika menyantap bola-bola sagu, ada sensasi berbeda yang pecah didalam mulut. Tekstur aneka sayur, ayam, dan ikan yang agak kasar berbaur dengan bola sagu yang kenyal. Saat kita menguyahnya secara bersamaan, bola-bola sagu melepaskan diri dan tergelincir masuk ke dalam tenggorokan bersamaan dengan sari ikan yang gurih.

Aromanya sendiri menggugah selera untuk segera melahapnya, gurih, agak asam dan sedikit pedas namun segar itulah rasanya masakan kapurung yang rame rasanya. Kapurung semakin nikmat jika dimakan dalam hidangan panas dengan tambahan keripik atau kacang goreng kemudian disajikan dengan kuah yang agak kental.

Hasmi, salah seorang pemilik warung kapurung mengatakan, pengunjung yang biasa memadati warungnya tidak hanya warga lokal, turis asing pun tak jarang terlihat asik menikmati sajian khan Tana Luwu ini.

“Awalnya kami ragu ketika turis itu pesan. Tapi setelah kami perhatikan, dia nampak menikmati setiap sendok kapurung,” kenang Hasmi.

Hasmi menjelaskan, inspirasi membuka warung kapurung berawal dari kegemarannya akan masakan ini. Bahkan menurutnya, sudah lebih dari 10 usaha ini digelutinya.

Untuk bahan baku sendiri kata Hasmi, didatangkan khusus dari Palopo. Apalagi tambahnya, dirinya menggunakan asam patikala yang menjadi ciri khas dari kapurung.

“Bahan dasar kapurung seperti sagu dan patikala kami langsung beli di Palopo. Patikala inilah yang menjadi ciri khas dari kapurung. Di sini tidak ada yang jual,” ujar hasmi

Setiap hari warung miliknya mampu menjual 50 porsi kapurung. Harganya pun bersahabat, hanya mengeluarkan biaya Rp15 ribu kita bisa menikmati kapurung ini dengan tiga varian rasa yang berbeda, yakni ikan, ayam, dan udang.

“Agar Sagu bisa bertahan lama, sebaiknya dibersihkan kemudian dikeringkan di tempat terbuka. Nanti kalau dibutuhkan barulah diolah,” pungkasnya. (*)


BACA JUGA