KPT2018 - Pembacaan Deklarasi

Konferensi Perempuan Timur 2018 Hasilkan Lima Rekomendasi untuk Pemerintah

Rabu, 12 Desember 2018 | 11:54 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Citizen Reporter

KUPANG,GOSULSEL.COM – Konferensi Perempuan Timur 2018 yang berlangsung dari 10 – 11 Desember 2018 di Kupang, Nusa Tenggara Timur menghasilkan lima rekomendasi bagi pemerintah. Rekomendasi ini diharapkan mengakselerasi penghentian kekerasan terhadap perempuan, penghentian perkawinan anak, peningkatan partisipasi politik perempuan, serta pelibatan perempuan marginal dalam pembangunan.

Dalam pidato penutupan KPT2018, seperti yang disampaikan dalam rilis yang dikirimkan ke Gosulsel.com, Rabu (12/12/2018)  Masruchah – Komisioner Komnas Perempuan mengatakan, “5 rekomendasi ini lahir dari persoalan dan pengalaman yang dialami perempuan di wilayah Timur Indonesia yang telah dibahas dalam Konferensi Perempuan Timur 2018. Gagasan dari perempuan yang hadir dari 12 provinsi di Indonesia Timur ini kami rangkum menjadi rekomendasi untuk kami sampaikan kepada pemerintah dan pihak terkait lainnya untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan, khususnya di Indonesia Timur. Rekomendasi yang memuat upaya perlindungan, pemulihan dan akses keadilan bagi korban kekerasan mencerminkan adanya relasi yang baik antara negara dan masyarakat sipil.”

Pada Senin, 10 Desember 2018 setelah acara dibuka oleh Yohana Yambise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, para peserta KPT2018 belajar beragam topik seputar permasalahan kekerasan terhadap perempuan. Topik tersebut, adalah pentingnya partisipasi perempuan wilayah Indonesia Timur untuk membangun masa depan wilayah Timur Indonesia dari Azriana Manalu (Komnas Perempuan), mengetahui lebih dalam tentang perdagangan manusia di NTT dari Prof. DR. Mien Ratuejo (Universitas Nusa Cendana), serta cara yang dapat digunakan agar masyarakat sipil dengan pemerintah dapat bekerja sama dari Elizabeth Marantika (Gasira) dan Drs. Idrus (Kadis P3A Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan).

KPT2018 – Diskusi Kelompok

Esoknya selasa 11 Desember, peserta yang hadir saling belajar dari para pelaku pembangunan dan aktor perubahan dari berbagai wilayah Indonesia Timur terkait 4 tema, yaitu Perempuan, Politik dan Kebijakan, Mekanisme Perlindungan dan Dukungan Perempuan Pembela HAM, Pencegahan Perkawinan Anak dan Inisiatif Masyarakat Sipil (Perempuan) dalam Mencegah dan Menangani Kekerasan Terhadap Perempuan dari Perspektif Budaya dan Pengalaman Pendampingan Perempuan Timur. Setiap kelompok memaparkan permasalahan terkait tema yang ada, lalu berbagi strategi yang sudah diimplementasikan di wilayah lain untuk menyelesaikan permasalah tersebut serta menyusun langkah lanjutan agar dapat bersama-sama membangun perempuan di Indonesia Timur.

Halaman: