Ilustrasi partai
Ilustrasi

Membongkar Motif di Balik Sikap Kontroversial PSI Tolak Poligami

Jumat, 14 Desember 2018 | 22:15 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali mengeluarkan sikap politik kontroversial. Dimana dengan tegas menolak Poligami. Pernyataan Ketua Umum DPP PSI, Grace Natalie ini bahkan masif menjadi materi kampanye PSI hingga ke daerah-daerah, tidak terkecuali di Sulsel.

Kontoversial? Iya, karena sebagian agama membenarkan poligami. PSI pun menyadari hal tersebut, namun disisi lain, selain murni adalah sikap PSI, hal ini juga diyakini mampu berimplikasi baik terhadap elektoral partai.

Hal ini tidak ditepis oleh Sekretaris DPW PSI Sulsel, Nuridayanti Mas. Dia menuturkan, mungkin pada sebagian orang ada melakukan penolakan atas sikap PSI ini, namun hasil survey menunjukkan mayoritas menolak poligami.

“Lewat hasil survei, Pemuda Muslim di Indonesia diketahui masih cukup konservatif memegang nilai-nilai agama Islam. Tapi mayoritas pemuda muslim ternyata menolak poligami,” kata Nuridayanti, Kamis (13/12/2018).

Caleg DPRD Sulsel ini menuturkan, berdasarkan riset, 85,9 persen masyarakat menolak poligami, sehingga data itu menjadi gambaran implikasi positif ke PSI.

“Menurut peneliti dan direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi di Goethe Institut terdapat 52,9 persen menolak poligami, sementara 32,9 persen yang sangat menentang poligami. Total 85,9 persen yang menolak poligami,” kata dia.

Olehnya, dia mengaku tidak khawatir dengan persepsi masyarakat yang menantang sikap PSI. “Dengan kondisi tersebut, kita tidak terlalu khawatir persepsi publik terhadap sikap politik tersebut,” tandasnya.

Berdasarkan data tersebut, pihaknya mengaku mampu mengelola isu dengan baik agar menguntungkan Caleg PSI jelang Pileg tahun 2019 mendatang. Nuridayanti menuturkan, PSI tiap mengangkat isu tentu sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik.

“Dimana kita menyuarakan aspirasi publik dengan tetap berhati-hati pada efek negatif elektoral partai,” tandasnya.

Halaman:

BACA JUGA