Ustadz Fakhrurrazi

Ustadz Fakhrurrazi Sebut Pacaran Halangi Anak Muda Hasilkan Karya

Kamis, 10 Januari 2019 | 18:29 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Mutmainnah - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL– Setiap perubahan peradaban pemuda lah prakarsa nya. Kalimat ini bukanlah isapan jempol belaka. Sejarah pun jadi saksi kebenarannya. Jadi tidaklah berlebihan jika sebutan Agent Of Change hingga Sosial Control terlekatkan pada pemuda.

Idealisme, keberanian dibalut semangat membara serta jiwa pejuang terlebih tambahan ideologi Islamnya. Semuanya berpadu utuh pada pemuda. Potensi inilah yang mencatatkan diri pemuda sebagai elemen utama umat terbaik sepanjang masa.

Inilah yang kembali disinggung oleh Ustadz Fakhrurrazi saat bertandang ke Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Kedatangannya dalam rangka mengisi materi di Seminar Islam Nasional bertajuk Umat Terbaik Yang Dinantikan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Mahasiswa Pecinta Masjid (MPM) UIN Alauddin Makassar.



Bertempat di Gedung Charakter Building Training (CBT) kampus II UIN Alauddin Makassar, Samata pada Rabu (9/1/2019) kemarin tersebut, juga hadir Kasubdit Bhabin Kantibmas Muhammad Darwis, SH., MH., mewakili Kapolda Sulsel.

Ustadz Fakhrurrazi menyampaikan pentingnya generasi muda membangun peradaban sebagai bentuk cinta tanah air yang didasari kecintaan pada Islam. Karena hal tersebut lah yang akan membawa pada karakter sebagai umat terbaik.

Namun di era modern dengan beragam gaya hidupnya yang bebas tak berbatas, membuat pemuda bergeser dari visi hidupnya yang dipersiapkan untuk peradaban bermartabat.

Sumber perilaku gaya hidup bebas yang menjangkiti generasi muda menurutnya adalah pacaran.

“Pacaran itu mendekati zina, termasuk akhlak tidak baik, membuang waktu sia-sia hingga menghalangi anak muda menghasilkan karya dan gagal membangun peradaban. Itulah mengapa Saya sangat benci melihat ada anak muda pacaran,” simpul Ustadz Fakhrurrazi.

Ustadz yang menempuh pendidikan S1, S2 dan S3 nya di Sudan tersebut menjabarkan ulama sekaligus ilmuwan Muslim seperti Syafi’i yang menggunakan masa mudanya mengejar ilmu yang membuatnya masih dikenal walau telah wafat puluhan bahkan ribuan tahun lalu.

Halaman:

BACA JUGA