Suasana pameran Seni Rupa Sulawesi Pa'rasanganta, Bentara Budaya 10-20 Januari 2019.(foto: AJR)

Tafsir Kampung Halaman dalam Pameran Seni Rupa ” Sulawesi Pa’rasanganta “

Selasa, 15 Januari 2019 | 16:01 Wita - Editor: Irwan AR -

MAKASSAR,GOSULSEL.COM — Sulawesi pa’rasanganta/ butta passolongan ceratta/ anjjari tanggungang malompo/ikkate tuma‘ buttaya/ punna tenaki sipainga/ naki massing massing ngu’rangi/ naammang sannang salewangang/ tamakulle amang boritta/ cini’ sai bori bellaya/ bella mamo kemajuanna/ te’ne mamo julu bangsana/ amang sannang pa’rasangana/ sambori sang pa’rasanganta/ baji maki ajjulu ati/ na amang sannang salewangang Sulawesi pa’rasanganta.

(Sulawesi kampung halaman kita/ tanah tumpah darah kita/ menjadi tanggung jawab besar/ bagi kita masyarakatnya/ Bila tak saling mengingatkan/ dan masing-masing sadar/ amannya tanah tumpah darah/ tidak akan aman kampung halaman kita/ Lihat kampung nun di sana/ sudah jauh kemajuannya/ Persatuannya yang kuat/ aman tenteram daerahnya/ Wahai teman sedaerah/ baiknya kita satukan hati/ Sehingga aman tenteram dan sejahtera Sulawesi kampung kita).

Mereka yang punya pertalian pada daerah di ujung selatan pulau Sulawesi mungkin masih akrab dengan lagu daerah berjudul “Sulawesi Pa’rasanganta'” ciptaan B Mandjia di atas. Sebuah ungkapan rindu dan cinta pada kampung halaman.

Judul lagu ini pula menjadi tema bagi pameran perupa-perupa Sulsel yang digelar Makassar Art Gallery dan difasilitasi Bentara Budaya Jakarta, berlangsung sejak 10 hingga 20 Januari 2019. Pameran ini diikuti oleh 24 pelukis dan akan memamerkan 24 karya lukis dan 3 karya instalasi. Juga diisi dengan acara workshop dan artistalk.



Pameran Seni Rupa Sulawesi Pa’rasanganta

Menurut keterangan resmi dari penyelenggara. Eksibisi bersama ini menampilkan karya lukisan dalam berbagai aliran gaya lukis yang berbeda tetapi tetap berakar pada kearifan lokal Sulawesi Selatan.

Perupa-perupa Sulawesi lintas generasi turut serta dalam pameran yang dikuratori oleh Anwar Jimpe Rachman.Mulai dari perupa yang masih muda hingga pelukis Abdul Kahar Wahid yang berusia 81 tahun. Kebersamaan ini dapat menjadi pemicu semangat berkarya seniman-seniman di Sulawesi Selatan.

Pameran ini digelar sebagai wujud kontribusi seniman-seniman Sulawesi Selatan terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia. Diharapkan dengan adanya pameran ini masyarakat akan lebih mengenal tentang dunia seni lukis di Sulawesi Selatan.

Halaman: