Sejarawan Etnis Tionghoa Didi Kwartanada memaparkan makalahnya dalam Seminar Kebudayaan Nasional, di Restaurant Bamboeden, Rabu (13/2/2019)

Seminar Kebudayaan Bahas Peranan Etnis Tinghoa dalam Budaya Nasional

Rabu, 13 Februari 2019 | 16:20 Wita - Editor: Irwan AR -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Masih dalam suasana Imlek, Persatuan Umat Budha (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan, menggelar Seminar Kebudayaan Nasional di Restoran Bambunden 1 Lantai 2 Makassar. Rabu (13/2/2019).

Seminar nasiona yang mengangkat tema “Tinghoa Merajut Keragaman, Memperkokoh Peradaban” ini menghadirkan Sejarawan Etnis Tionghoa Didi Kwartanada, Budayawan dan akedmisi Alwi Racman, Akademisi dan Budayawan UNM Halilintar Latief, dan peneliti etnis Tionghoa Yerry Wirawan.

Sekertaris PERMABUDHI, Nelly mengatakan, seminar ini mengundang seluruh elemen pemuka agama dan budaya. Termasuk pengurus-pengurus klenteng yang ada di Sulsel.

“Sekitar 350 orang peserta, dari organisasi masyarakat di Tionghoa sendiri, OKP Mahasiswa Islam, Dinas Kebudayaan Makassar, kalangan kampus, akademisi, ormas Islam yang banyak dihadiri kalangan NU di Makassar,” ungkap Nelly.



Kegiatan ini mengambil spirit Imlek untuk melihat bagiamana eksistensi masyarakat Tinghoa yang sudah berbaur dengan masyarakat pribumi.

“Budaya Indonesia ini dibangun dari berbagai budaya yang ada dan hidup, termasuk budaya Tinghoa, ini yang kita lakukan untuk menaydarkan bagaimana budaya nasional itu dibangun dari berbagai budaya-budaya di dalamnya,” ungkap Yongris.

Salah satu yang jadi masalah sehingga kesadaran itu tidak terbangun bahkan menjadi salah satu momok yang memnyebabkan terjadinya sentimen terhadap peranakan Tionghoa adalah penghilangan beberapa fakta sejarah.

Didi Kwartanada dalam paparan materisnya tentang sejarah etnis Tinghoa dalam membangun Indonesia mengungkapkan beberapa fakta sejarah yang dihilangkan.

” Salah satunya bagaimana peranan etnis Tinghoa dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) menghilangkan fakta tentang empat orang pernanakan cina dalam BPPUPKI, dalam terbitan pertama fakta itu masih tertulis namun dalam revisi selanjutnya bahkan di terbitan terbarunya 2019 pun fakta itu dihilangkan,” Ungkap Didi.


BACA JUGA