Sanggsar seni Batara Maru'

Malam Ini, Sanggar Batara Maru’ Pentaskan Kisah Petualangan Passompe Bugis-Makassar

Sabtu, 16 Februari 2019 | 13:09 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

MAROS, GOSULSEL.COM — Sanggar Batara Maru’ Kabupaten Maros bakal melakukan pementasan gelar karya tari. Pentas bertajuk ‘Passompe’ tersebut mengangkat tema ‘Menapak Identitas Passompe’ di Era Milenial.

Pentas ini akan berlangsung di Gedung Serbaguna Maros pada Sabtu (16/2/2019) mulai pukul 20.00 Wita. Warga Maros diharapkan meramaikan pementasan seni ini.

Pendiri Sanggar Batara Maru’ Maros, Haris Mahmud mengungkapkan, bahwa Sanggar Batara Maru’ yang berdiri sejak 1 September 2006 telah melahirkan banyak pelaku seni dan karya kesenian. Anak-anak yang berusia belia yang duduk di bangku SD direkrut dan diajar kesenian, sehingga mereka sudah terbekali untuk tetap menjaga budaya sebagai jati diri bangsa.

“Kami merasa sangat bangga dan haru dengan akan diadakannya Gelar Karya Sanggar Batara Maru’, sebab karya yang telah dihasilkan dapat diapresiasikan dan diperkenalkan ke masyarakat,” ujarnya, Sabtu (16/2/2019).



Ditambahkannya, Passompe’ diangkat sebagai ide pokok dari kegiatan karena merupakan salah satu bagian dari identitas masyarakat Bugis-Makassar sebagai pelaut ulung dan dalam perantaun yang dilakukan memegang prinsip untuk menjaga 3 ujung atau tallu cappa, yaitu cappa lila atau ujung lidah, cappa kaburakneang atau ujung kemaluan dan cappa badi atau ujung badik, sebagai bekal untuk sukses di negeri rantau.

Ketua panitia pementasan, Syamsul Bakhtiar Assagaf, mengemukakan bahwa kegiatan ini sebagai jawaban dan kegundahan para pelaku seni dengan semakin tergerusnya nilai budaya di era milenial ini.

“Sematan ‘to ugi-mangkasara’ hanya menjadi simbol semata bagi generasi muda. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini diharapkan kebudayaan sebagai identitas kembali kita dikenali, dipelajari, dikembangkan dan diperkenalkan ke khalayak,” jelasnya.

Sementara executive producer, Suwardi Didin memaparkan, kendala-kendala yang dihadapi dalam pengkaryaan, yaitu terkait penggarapan lima karya dengan pengaturan waktu yang optimal karena pemain yang memiliki berbagai ragam aktivitas, mereka sekolah, kuliah dan kerja. Sehingga waktu yang digunakan latihan pada malam hari.

“Akan tetapi kendala itu bukan menjadi penghalang dalam berkarya karena antusias dari teman-teman sanggar yang sangat besar. Lebih baik mandi keringat saat proses. Mariki jaga budayata karena itu adalah identitas kita,” paparnya.

Kegiatan ini akan dihadiri oleh para seniman, budayawan, pemerhati seni dan stakeholder serta pemerintah daerah.(*)


BACA JUGA