Quraisy Mathar/Washilah

Refleksi Seminar Budaya; Menggagas Model Revitalisasi Kawasan Museum Balla Lompoa

Kamis, 21 Maret 2019 | 17:52 Wita - Editor: Irwan Idris -

Saya sebetulnya tak terlalu suka dengan istilah sakralisasi, sebab dalam kamus saya hanya ada satu yang sakral, yakni Tuhan. Semakin banyak instrumen lain yang disakralkan, maka semakin berkurang kesakralan Tuhan. Lalu hari ini, ketika ide besar dan mulia, untuk merevitalisasi sebuah situs sejarah, yakni Balla Lompoa dijadikan wacana publik, maka sebagian dari kita, khususnya para Tetua, mungkin akan sedikit bersoal tentang saling beririsannya revitalisasi dan sakralisasi. Beberapa lokasi dan ornamen yang terarsir dalam ide revitalisasi tersebut, masih disakralkan beberapa orang.

Sakralisasi konten berbeda dengan sakralisasi konteks. Kalau mensakralisasi konten, saya sangat setuju, sebab kita hanya akan memuliakan sejarah beserta seluruh pesan dan maknanya, misalnya “kalamullah” ayat-ayat Tuhan, yang sakral itu bacaannya, bukan bahan bacaannya, sebab kemuliaannya menempel dalam firman Tuhan, bukan kertas tempat firman Tuhan tersebut dicatat. Sebaliknya, sakralisasi konteks, saya tak setuju, sebab hanya akan melahirkan jimat-jimat, kawasan angker, sembahan-sembahan baru, atau bahkan keyakinan yang sesat, sebab kita mensakralisasi fisiknya, bukan isinya.

Revitalisasi kawasan Balla Lompoa, menurut saya adalah ide besar nan mulia seorang Bupati Gowa yang sejak dahulu memang sudah kuyakini memiliki mimpi yang besar. Hanya berbekal pandanganku ke matanya, sudah cukup buatku untuk menentukan pilihanku pada pilbup Gowa yang lalu. Bagaimana tidak, tatapannya jauh dan sarat makna. Bupati Gowa adalah generasi milenial yang paham bahwa sejarah hari ini bukan milik kita, melainkan milik generasi yang hari ini belum lahir. Sejarah harus dikonstruksi, bukan sekedar dilestarikan. Kebesaran masa lalu harus divisualisasikan, bukan hanya didongengkan dan jadi mitologi kuno.

Orang yang berhasil mengkonstruksi sejarah adalah pemilik sejarah itu sendiri. Tidak usah bernostalgia dengan sejarah perjanjian Bungayya secara konteks, sebab tempatnya sendiri sudah tak jelas. Apa generasi kita hari ini tahu, di mana Pallantikang, di mana Bungung Baraniyya, atau bahkan di mana bandar dermaga Gowa yang dulu terkenal dengan armada laut terbesar pada masanya. Silahkan tanya juga anak-anak kita, apa masih bisa membaca akasara lontara? Silahkan menjawabnya sendiri-sendiri. Lalu mengapa sangat bersemangat mengisahkan hal-hal tersebut dengan sakral ke anak-anak kita.

Sakralisasi konten inilah yang saya yakin akan direvitalisasi oleh Bupati Gowa, walau resikonya adalah situs dan ornamennya yang oleh sebagian orang disakralisasi secara konteks juga harus pasti terevitalisasi. Saya tadi sempat mendengar seorang audiens berkisah tentang 60 tahun yang lalu, area Balla Lompoa adalah istana bermainnya bersama seluruh bocah cilik di masanya. Pohon kelapa mengitari areanya, dan tak ada sekat yang membatasi istana, pemerintah, dan rakyatnya pada masa itu. Jika demikian, mengapa harus alergi mengembalikan romantisme istana tanpa sekat itu dalam format milenial. Ruang itu harus kembali tak bersekat dengan sentuhan gaya industri 4.0.

Saya sangat setuju dengan ide untuk membuat visualisasi landscape berbasis sejarah, atau saya sebut saja dengan film. Balla Lompoa memang harus difilmkan, sebab hari ini, film punya kekuatan untuk merubah dunia, sebaiknya memang ada visual yg merangkum interaksi landscape dan seluruh kisah kebesaran Gowa. Mari belajar dari Lagaligo yang terus diskusikan, diperdebatkan, bahkan dipertengkarkan. Lalu tiba-tiba Robert Wilson, seorang Eropa datang dan menampilkan pentas kolosal Lagaligo dengan warna warni sinar laser di teras benteng Roterdam. Maka selanjutnya runtuhlah seluruh diskusi dan perdebatan kita tentang replik, sureq, dan bla bla bla Lagaligo, sebab generasi selanjutnya hanya tahu, atau mau tahu, bahwa Lagaligo itu adalah warna warni sinar laser ala Robert Wilson, bukan buku tebal hasil perdebatan kita dulu di ArungPacana atau hasil diskusi di Soppeng beberapa waktu yg lalu. Maka sebelum ada Robert-Robert lain lagi yg datang entah dari negeri yang mana, dan untuk merangkum seluruh ide dan kegelisahan kita hari ini, serta untuk merespon kekuatan mimpi Bupati Gowa, maka kutawarkan ide untuk memproduksi film kolosal standar festival internasional yang berjudul “ayam jantan dari Timur”, sebab hanya film tersebut yg bisa mengintegrasikan landscape dan sejarah kebesaran Gowa secara visual. Silahkan untuk didiskusikan, atau mungkin juga untuk diperdebatkan.

Saat sesi ujung diskusi, Bupati Gowa berbicara kembali tentang idenya tersebut. Sembari mengagumi ide beliau, dalam hati saya berbisik “wujudkan mimpimu Pak Bupati, sebab kamulah pemilik sejarah, bukan orang-orang yang terus gamang dan terjebak dalam sakralisasi sana sini”. Anak-anak kita di masa depan akan bercerita tentang situs selanjutnya pada masanya, dan itu ternyata bukan istana Balla Lompoa, melainkan mall dan pusat hiburan yang lain. Lalu saya beranjak melangkah menghampiri Pak Bupati yang langsung menyapaku, menjabat tangan sembari bercipika-cipiki. Saya berbisik “cuma satu yang sakral buatku Pak”. Pak Bupati balas bertanya “apa itu?”. Kujawab “Tuhan, maka revitalisasilah segera Balla Lompoa, agar anak-anak kita tetap akan bangga dengannya”. Saya memberi hormat lalu pamit kembali ke ruang kerjaku di kampus.

Laksanakan mimpi itu Pak Bupati, saya percaya mata dan pikiranmu.

CELOTEHKU

Quraisy Mathar


BACA JUGA