Sebuah masjid yang berdiri kokoh di tengah hutan viral di media sosial. Masjid tersebut terletak di Kampung Langkoa Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangang Kabupaten Gowa.

Keluarga Pemilik Cemas, Masjid Megah Tengah Hutan Disebut Tempat Islam Radikal

Senin, 25 November 2019 | 21:26 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

GOWA, GOSULSEL.COM – Anak H. Busli Karaka, yakni Rizal Busli cemas, lantaran ada yang menyebut masjid megah di tengah hutan Kabupaten Gowa milik ayahnya digunakan oleh sekelompok islam radikan dengan tujuan tidak baik.

Curhatan itu disampaikan oleh akun youtube bernama Rizal Busli pada sebuah chanel youtube yang mengunggah video masjid yang terletak di Kampung Langkoa Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangang Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

pt-vale-indonesia

Akun Rizal Busli mengaku adalah anak dari pemilik masjid. Pada paragraf terakhir tulisannya dia mengaku miris atau cemas lantaran ada memplesetkan niatan masjid itu dibangun.

“Miris saya membaca komentar-komentar miring (warganet) seakan-akan masjid ini tersembunyi karena dipakai oleh islam radikal atau niat tidak baik. Percayalah, masjid itu berdiri atas niat yang sangat baik,” tulis Risal Busli.

Tulisan Risal Busli inipun kini viral di jagad media sosial. Dia menjelasakan kronologi awal mula masjid itu. Awalanya lantaran kegelisahan H. Busli dengan batu besar yang berada pada lokasi berdirinya masjid seringkali dijadikan tempat pesugihan.

Ini yg katanya lg Viral. Saya jg baru tau.
Jadi penasaran mau kesana liat langsung. ?

Masjid Megah di tengah hutan/di tengah kebun kopi (di kaki gunung Lompobattang) Desa Bontoloe, Kec. Bontolempangan, Kab.Gowa Sul-Sel.
Berikut penjelasannya.

“Di tempat berdirinya masjid itu, dulunya ada sebongkah batu yang sangat besar. Seringkali ditemukan semacam persembahan atau ‘sesajen’ dibatu tersebut maupun sekitarnya,” katanya.

Risal Busli menolak jika itu adalah hutan belantaran, lantaran merupakan kebun kopi milik ayahnya. Kabarnya disekitar kebun seluas 30 hektare itu berdiri sejumlah rumah yang dihuni para pekerja kebun milik H. Busli.

“Karena itu ayah saya mencari orang untuk menghancurkan batu tersebut. Penduduk sekitar tidak ada yang mau karena batu tersebut dianggap keramat. Ayah saya membawa seorang pekerja dari Papua untuk menghancurkan batu itu, tukang-tukang dari Jawa Barat untuk menggunakan pecahan-pecahan batu tersebut sebagai pondasi dari masjid,” ungkapnya.

“Masjid tersebut belum selesai seutuhnya, dibawahnya akan ada ruangan untuk tempat tinggal guru mengaji untuk anak-anak dan penduduk sekitar,” imbuhnya.

Hingga saat ini, GOSULSEL.COM yang berusaha mengkonfirmasi tulisan itu ke H. Busli mapun Risal Busli belum berhasil. Namun tulisan itu sudah viral dan menjadi perbincangan publik.(*)


BACA JUGA