Sebuah masjid yang berdiri kokoh di tengah hutan viral di media sosial. Masjid tersebut terletak di Kampung Langkoa Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangang Kabupaten Gowa.

Sebelum Jadi Masjid Megah Tengah Hutan, Dulu Tempat Pesugihan

Senin, 25 November 2019 | 19:45 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Masjid viral yang berada di tengah hutan Kabupaten Gowa makin ramai diperbincangkan warganet. Berbagai macam tanggapan dialamatkan kepada masjid megah dengan arsitektur sembilan kubah itu.

Belakangan beredar tulisan di media sosial. Tulisan berupa penjelasan orang yang mengaku anak dari pemilik masjid H. Busli Saraka. Tulisan yang berseleweran ini disertai identitas nama Rizal Busli.

muhammad-ismak

Dalam tulisan itu, Rizal Busli mengaku bahwa dilokasi masjid yang terletak Kampung Langkoa Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangang Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dulunya adalah sebongkah batu besar.

“Masjid ini dibangun ayah saya didalam kebun kopi miliknya, masjid terbuka untuk umum. Di tempat berdirinya masjid itu, dulunya ada sebongkah batu yang sangat besar,” tulis Rizal Busli.

Disekitar batu itu seringkali ditemukan sesajian. H. Busli Saraka yang kerap kali menemukan banyak persembahan akhirnya mencari cara untuk menghancurkan batu itu. Ia mendatangkan orang dari Papua.

“Seringkali ditemukan semacam persembahan atau ‘sesajen’ dibatu tersebut maupun sekitarnya. Karena itu ayah saya mencari orang untuk menghancurkan batu tersebut. Penduduk sekitar tidak ada yang mau karena batu tersebut dianggap keramat. Ayah saya membawa seorang pekerja dari Papua untuk menghancurkan batu itu,” ujar Rizal Busli.

Tidak hanya dari Papua, H. Busli juga mendatangkan tukang dari Jawa Barat yang membangun masjid megah miliknya. Bongkahan batu yang dianggap keramat itulah dijadikan sebagai batu pondasi.

“Tukang-tukang dari Jawa Barat untuk menggunakan pecahan-pecahan batu tersebut sebagai pondasi dari masjid,” ujarnya.

Tidak hanya masjid megah. Rencananya H. Busli juga akan membangun tempat pengajian TKA/TPA. Dia juga akan membangun rumah-rumah untuk guru mengaji.

“Masjid tersebut belum selesai seutuhnya, dibawahnya akan ada ruangan untuk tempat tinggal guru mengaji untuk anak-anak penduduk sekitar. Miris saya membaca komentar-komentar miring seakan-akan masjid ini tersembunyi karena dipakai oleh islam radikal atau niat tidak baik. Percayalah, masjid itu berdiri atas niat yang sangat baik,” tandasnya.(*)


BACA JUGA