FOTO: Kepala Pusat Data dan Sistem Informatika (Kapusdatin) Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa/Ist

Ekspor Pertanian Meningkat Tajam Dua Bulan Terakhir

Jumat, 07 Februari 2020 | 13:20 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

JAKARTA, GOSULSEL.COM – Kementeria Pertanian Republik Indonesia dibawah komando Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengeluarkan terobosan baru dalam mendorong ekspor produk pertanian, yang dikenal dengan Gerakan Peningkatan Eskpor Pertanian Tiga Kali Lipat (Gratiek).

Terobosan yang merupakan tindaklanjut arahan Presiden RI, Djoko Widodo yang mengatakan bahwa, ekspor dan investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga harus ditangani secara serius. Melalui terobosan ini diharapkan dalam 5 tahun ke depan, secara bertahap ekspor produk pertanian meningkat 3 kali lipat dari sekarang.

Ditengah-tengah lesunya ekspor Indonesia, justru terobosan yang dibuat Menteri SYL telah menunjukkan hasil yang sangat membanggakan.

Hal ini terlihat dalam dua bulan terakhir, yakni Bulan November dan Desember 2019. Ekspor produk pertanian meningkat tajam.



“Volume dan nilai ekspor produk pertanian selama November-Desember 2019 meningkat masing-masing 8,66% dan 10,90% dibandingkan pada periode Nopember-Desember 2018, yaitu dari 7,73 juta ton menjadi 8,40 juta ton; dan dari US$ 4,67 Milyar menjadi US$ 5,18 Milyar,” kata Kepala Pusat Data dan Sistem Informatika (Kapusdatin) Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa, Jumat (7/2/2020).

Dia melanjutkan, pada periode tersebut, surplus neraca perdagangan produk pertanian Indonesia juga meningkat 34,72% dibanding tahun 2018, yaitu dari US$ 1,44 Milyar menjadi US$ 1,95 Milyar.

“Pada tahun yang sama (2019), kinerja ekspor produk pertanian dalam dua bulan terakhir, November dan Desember juga lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Hal ini tampak pada November 2019 volume dan nilai ekspor produk pertanian meningkat masing-masing 7,35% dan 4,53% terhadap Oktober 2019. Bahkan pada Desember 2019 volume dan nilainya meningkat masing-masing 10,44% dan 19,56% terhadap Nopember 2019 dan meningkat masing-masing 18,56% dan 24,98% terhadap Oktober 2019,” ungkap Ketut.

Surplus neraca perdagangan produk pertanian juga meningkat tajam pada Desember 2019, yaitu 24,52% terhadap Nopember 2019, dan meningkat 61,45% terhadap Oktober 2019. Menurut Ketut peningkatan ekspor dan surplus perdagangan produk pertanian dalam dua bulan terakhir ini tentunya tidak terlepas dari dorongan kuat Kementan dibawah Menteri SYL untuk menggerakan ekspor produk pertanian.

Namun demikian, sampai saat ini ekspor produk pertanian masih didominasi oleh produk perkebunan. Dari nilai ekspor produksi pertanian selama tahun 2019 sebesar US$ 24,97 Milyar, hampir 95% berasal dari perkebunan, dan masing-masing hanya 2,83% dari peternakan, 1,73% dari produk hortikultura dan sisanya 0,55% dari produk pangan.

Masih lanjut dia, untuk meningkatkan peran sektor pertanian ke depan dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan mewujudkan target peningkatan ekspor tiga kali lipat, berbagai upaya dilakukan, seperti mengidentifikasi dan mendorong produksi dalam negeri berpotensi ekspor, meningkatkan peran swasta atau investor dan kebijakan mempermudah proses eskpor, perbaikan sistem layanan karantina, peningkatan efisiensi biaya produksi dan daya saing melalui pengembangan pertanian berbasis IT.

“Selanjutnya, juga melakukan diplomasi untuk memperluas jenis komoditas dan tujuan pasar ekspor ke negara-negara baru,” tandasnya.(*)


BACA JUGA