FOTO: Anggota DPRD Makassar, Budi Hastuti/Ist

Legislator Budi Hastuti Sarankan Simulasi Mitigasi dan New Normal Tangani Covid-19

Kamis, 14 Mei 2020 | 12:21 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Anggota DPRD Kota Makassar, Budi Hastuti menyarankan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Makassar untuk mengevaluasi proses penanganan Pendemi Virus Corona. Terlebih lagi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berpolemik. Pada PSBB tahap dua dinilai ada banyak kelonggaran dari PSBB sebelumnya.

Kelonggaran penerapan PSBB tahap kedua bukan tanpa alasan, bisa saja pemerintah melakukan upaya penyeimbangan penanganan wabah dan penyelamatan ekonomi. Budi Hastuti mengatakan, obsesi untuk menghilangkan virus sepertinya sangat sulit. Apalagi dari beberapa pengalaman, yang tidak pernah ada sekalipun orang yang “membumihanguskan virus”.

“Kalau menurut saya sih, sasaranya adalah new normal. Pemerintah dan gugus tugas mestinya tidak lagi berpikir virus ini akan hilang. Tapi bermuara pada gaya hidup baru untuk beradaptasi dengan wabah ini, jadi kita harus mendorong simulasi-simulasi penanganan untuk hidup adaptif,” kata Budi Hastuti, Kamis (14/5/2020).

Simulasi-simulasi new normal ini, kata Budi Hastuti yang harus dilakukan sambil mendukung dan mendorong ilmuan serta pakar untuk menemukan vaksin atau obat Virus Corona.



Olehnya, lanjut Budi Hastuti pemerintah dan gugus tugas harus merancang mitigasi atau upaya mengurangi kerugian dan korban bencana wabah Covid-19. Mitigasi ini harus disampaikan secara luas ke masyarakat, agar selain dilakukan secara luas, masyarakat secara pribadi juga memiliki modal mitigasi.

“Harus ada simulasi mitigasi, dan pemerintah dan warga harus disiplin. Modal mitigasi ini sebisa mungkin jangan melumpuhkan ekonomi. Baik ekonomi daerah maupun ekonomi rumah tangga. Saya rasa cukup menyesuikan dengan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Termasuk penerapan cara baru di setiap tempat-tempat umum yang sulit dihindari. Wabah ini, menurut dia memang memaksakan pada peradaban gaya hidup baru.

“Misalnya di pesawat. Jangan ditutup penerbangannya. Tapi harus ada simulasi yang mau tidak mau memaksakan kita pada gaya hidup baru. Misalnya surat keterangan kesehatan sebelum naik pesawat, penggunaan kaos tangan dan lain-lainnya. Kita harus beradaptasi dengan pelan-pelan,” kata Budi Hastuti.

Selain adaptasi pola hidup, Budi Hastuti mengatakan, melalui pendekatan medis juga harus menemukan simulasi untuk hidup adaptif berdampingan Virus Corona. Bagaimana dilakukan secara pelan-pelan agar virus corona ini tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.

Budi mengatakan, pada dasarnya melihat perkembangan wabah secara umum dari dulu, setiap virus atau penyakit yang baru memang dibutuhkan waktu dalam mencari solusi dalam artian mencari obat maupun vaksin. Sehingga dalam rentan waktu itu, yang harus dilakukan adalah mitigasi.

“Contohnya virus flu biasa, pada awalnya merupakan wabah yang mengerikan yang menular dengan cepat sebelum ditemukan obatnya. Ketika sudah ditemukan obatnya manusia tinggal menyesuaikan diri agar tidak terjangkit flu,” ungka Budi.

Selain mitigasi, langkah antisipatif menurut Budi Hastuti juga sangat penting. Dengan upaya menjaga diri agar tidak terpapar. Modal pengetahuan antisipasi ini penting dimiliki semua masyarakat.

“Tapi pada dasarnya kiat-kiat dan arahan yang dilakukan oleh pemerintah pada saat ini sebaiknya tetap kita ikuti,sambil bersama kita berpikir langkah yang paling kongkrit. Karena memang pada akhirnya kita harus hidup berdamai dengan virus ini seperti halnya virus atau penyakit lainnya yang dahulu mewabah sebelum ditemukan obatnya,” tandasnya.(*)


BACA JUGA