Video Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah saat bersama Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin dan Asisten I Pemkot Makassar, M Sabri yang menyebut untuk melawan "Tungguma".

Soal Video Dugaan Gubernur Lawan Danny, Bastian Lubis Sebut NA ‘Lupa Daratan’

Minggu, 28 Juni 2020 | 13:59 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah terus mendapat kritikan usai melakukan pencopotan Pj Wali Kota Makassar secara tiba-tiba. Bahkan, kuat dugaan ada alasan tersembunyi dibalik pergantian tersebut.

Diduga, Nurdin menggantikan Yusran Jusuf sebagai Pj Wali Kota Makassar lantaran diketahui dekat dengan salah satu Bakal Calon Wali Kota Makassar, yakni Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto. Berawal dari persoalan inilah yang membuat Nurdin geram.

Bahkan, beredar video berdurasi satu menit di sosial media, dimana Nurdin diduga memerintahkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melawan Danny Pomanto. Alih-alih menyebut namanya, NA justru mengucapkan tagline dari Danny Pomanto, ialah ‘Tungguma’.



Dalam video tersebut, Nurdin tampak terlihat marah di depan Pj Wali Kota Makassar yang baru, Rudy Djamaluddin, Asisten I Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar Sabri, dan sejumlah Camat. Ia menyebut untuk jangan takut dengan ‘Tungguma’.

“Jadi janganmi takut, tungguma, tungguma, tidak ada urusan, saya mau lawan itu, tidak usah takut, lawan, saya yang di depan,” kata NA, di dalam video yang diketahui berlangsung usai pelantikan Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin di Rujab Gubernur Sulsel, Jumat (26/06/2020).

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Pemerintahan dan Politik, Bastian Lubis menilai Nurdin Abdullah tidak sepantasnya menyebut hal itu, terlebih ia merupakan seorang kepala daerah dan harus menjadi teladan bagi masyarakat. Kata Bastian, apa yang dilakukannya justru seolah membuat ia ‘lupa daratan’.

Sebab, Nurdin melupakan kontribusi besar Danny dalam memenangkan dirinya pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018 lalu. Dan malah mulai menghalangi Danny untuk maju dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar 2020.

“Sangat tendensius dan tidak baik untuk seseorang pejabat publik, karena lebih mengedepankan perasaannya saja tanpa berpikir yang rasional sepertinya hanya memerangi tagline ‘Tungguma’ dibandingkan untuk strategi memerangi wabah Corona,” keluhnya saat dihubungi, Minggu (28/06/2020). 

“Padahal Danny Pomanto (DP) juga yang menjadi penentu kemenangan beliau di kota Makassar pada saat pilkada lalu. Memang di dunia politik tidak ada kawan dan lawan, yang ada kepentingan,” sambungnya.

Meski begitu, ia meyakini masyarakat sudah cerdas melihat kondisi saat ini. Apabila nantinya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 digelar, mereka sudah bisa tahu siapa kandidat yang mesti mereka pilih sebagai pemimpin untuk Kota Makassar.

“Tapi harus pula diingat saat ini pemilih di kota jauh lebih pintar dan cerdas dalam menentukan siapa yang pantas  memimpin. Kalaupun ada peserta pilkada yang bermain uang ambil saja uangnya tapi jangan sekali kali dicoblos karena kalau menang pasti akan korupsi,” tutupnya. (*)


BACA JUGA