#

Membongkar Alasan Deklarator dan Pentolan Partai Tinggalkan NasDem di Bulukumba

Jumat, 31 Juli 2020 | 18:07 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Deklarator Partai NasDem Kabupaten Bulukumba, Ustadz Kamaluddin Jaya bersama para pentolan NasDem ramai-ramai hengkang dan menegaskan sikap meninggalkan partai gerakan restorasi. Spekulasi yang berkembang adalah karena pilihan di Pilkada Bulukumba tidak sesuai dengan aspirasi mayoritas kader.

Namun belakangan terungkap bahwa bukan hanya sikap politik di Pilkada, melainkan ada banyak alasan dan etika organisasi yang selama ini tidak jalan di NasDem. Hal ini diketahui setelah dibeberkan Kamaluddin Jaya.

Pertama adalah pengalihan kepemimpinan dari Tomy Satria Yulianto sebagai Ketua DPD NasDem Bulukumba ke Arum Spink yang dilakukan tanpa sepengetahuan kader dan terkesan tiba-tiba.



“Selama ini NasDem baik-baik saja. Tiba-tiba ada pergantian kepemimpinan yang hanya diumumkan lewat media. Restu saya terlibat pada kepemimpinan Tomy di NasDem, diajak dan didapuk sebagai ketua dengan baik-baik, mestinya pencopotan sebagai ketua disampaikan dengan baik-baik pula. Ini sudah menjadi etika kita di Bulukumba,” kata Kamaluddin.

Diketahui pada proses pengalihan kepemimpinan dari Kamaluddin Jaya ke Tomy Satria memang berjalan baik. Tak ada riak-riak di internal NasDem.



Alasan lain, sebab NasDem tidak lagi memberlakukan reward and punishment dengan adil. Di saat Tomy Satria berhasil mengantarkan NasDem sebagai pemenang Pemilu dengan suara terbanyak di Bulukumba dengan jumlah kursi dari 4 menjadi 5, itu tak berarti apa-apa dan tak menjadi pertimbangan NasDem.

Tomy juga dinilai sebagai orang yang taat pada NasDem. Dimana ia tidak pernah sama sekali mengkonsolidasikan kader pada kepentingan dirinya di Pilkada dengan alasan menghormati NasDem yang belum memutuskan usungan di Pilkada.

Disisi lain ada kelompok minoritas di NasDem Bulukumba dengan terang-terangan melakukan konsolidasi ke bakal kandidat lain. Di saat yang sama beberapa kali DPW NasDem Sulsel menegaskan bahwa belum ada keputusan partai perihal usungan di Pilkada Bulukumba.

“Ini tidak fair. Ada orang yang tidak melibatkan partai pada kepentingan pribadinya dengan alasan menghormati partai namun diberi punishment. Ada pula orang yang telah mendahului kepentingan partai namun dianggap baik-baik saja,” ungkapnya.

Hal itu menjadi alasan, sehingga patut dicurigai kemungkinan adanya laporan yang tidak benar ke DPW NasDem. Sebab hubungan internal NasDem dibawah kendali Tomy Satria baik-baik saja.

Alasan selanjutnya, NasDem dinilai mengabaikan aspirasi kader. Belakangan keputusan partai tidak melibatkan kader, tidak pula menyampaikan keputusan partai kepada kader dengan baik. Hanya diumumkan secara tiba-tiba melalui media.

Diketahui, beberapa kali Kamaluddin Jaya dan ketua-ketua DPC meminta DPW menjelaskan soal keputusan usungan di Pilkada Bulukumba, agar tak ada persepsi “perselingkuhan” yang dilakukan anggota Fraksi NasDem di DPRD Bulukumba yang melakukan konsolidasi pemenangan kepada bakal kandidat lain.

“Kita sudah mengusulkan agar NasDem mengusung kader untuk 01 bukan 02. Namun aspirasi itu beberapa kali diabaikan,” ungkapnya.

Para kader yang memutuskan meninggalkan NasDem dikatakan para pentolan, sebab mereka adalah para kader yang menggerakkan partai sejak pertama kali hadirnya NasDem di Bulukumba. Para ketua DPC ini tidak pernah tergantikan mulai dari kepemimpinan Kamaluddin Jaya hingga Tomy Satria.

“Benar, mereka adalah para ketua DPC sejak pertama kali NasDem. Selama ini belum pernah ada resufle ketua DPC,” kata Kamaluddin Jaya.(*)


BACA JUGA