Keluarga Andi Rasti Dwirahayu yang meninggal bersama anaknya saat proses persalinan.
#

Ibu dan Bayinya Meninggal Saat Persalinan, Keluarga Tuntut Dokter RSUD di Bulukumba

Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:36 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Khaerul Fadli - Gosulsel.com

BULUKUMBA, GOSULSEL.COM–Seorang Ibu bernama Andi Rasti Dwirahayu meninggal bersama bayinya ketika hendak melahirkan di Rumah Sakit Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pada Kamis malam (7/8/2020).

Sebelumnya, Andi Rasti masuk di RSIA Yasira Bulukumba pada pukul 17.00, akan tetapi pihak rumah sakit tersebut tidak mampu menangani pasien karena umur kandungan sudah melewati bulan akhirnya. Pihak RSIA pun merujuk pasien tersebut ke RS Andi Sultan Daeng Radja.

Atas meninggalnya Rasti dan anaknya, keluarga mempertanyakan kinerja dokter yang menangani dan menganggap telah melakukan kesalahan. Akibat insiden tersebut, pihak keluarga merasa dirugikan dan akan segera melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib.

“Iya kami akan laporkan insiden ini ke Polres Bulukumba.  Kami juga akan adukan kejadian ini ke IDI Cab. Bulukumba. Kami minta pihaknya melakukan penindakan terhadap Anggotanya,” kata Andi Haris Ishak.



Menanggapi kritikan keluarga korban, pihak Rumah Sakit angkat bicara. Adapun isi klarifikasi dari Pihak RSUD yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp sebagai berikut:

Menanggapi aduan keluarga an Raden Arfah Andi ( andi Haris Ishak) di media social atas kematian Andi Rasti Dwi Rahayu pada tanggal 7 Agustus 2020 jam 10.15, pihak RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba sebelumnya mengucapkan belasungkawa mendalam atas berpulangnya saudari Andi Rasti yang juga merupakan salah satu staf keuangan di RS.

Perlu kami klarifikasi pasien atas nama Andi Rasti benar masuk pada tanggal 6 agustus 2020 jam 20. 40 dirujuk dari RS yasira dengan umur kehamilan 41–42 minggu (sudah melewati tafsiran persalinan) dengan pengantar untuk di rencanakan induksi persalinan.

Perlu diketahui keadaan umum ibu pada saat masuk rumah sakit dalam kondisi inpartu di tandai dengan adanya pembukaan mulut Rahim dan kontraksi, tanda – tanda vital dalam batas normal, Denyut jantung bayi normal. Dengan kondisi tersebut diambil keputusan untuk observasi diharapkan dapat melahirkan normal. Pada pagi hari dilakukan pemeriksaan kembali tidak didapatkan kemajuan persalinan sehingga dilakukan induksi persalinan dan hal ini sudah disetujui oleh pihak keluarga.

Setelah dilakukan induksi pada jam 7.00 pagi, jam 8.35 kemudian ketuban pecah spontan dan dilanjutkan di observasi denyut jantung Janin dan kontraksinya. Tiba – tiba jam 09.30 pasien Syok sehingga di lakukan segera tindakan penyelamatan pasien manajemen jalan napas dan bantuan sirkulasi, RJP (resusitasi jantung paru) dan tindakan medis lainnya. Namun jam 10.15 pasien dinyatakan meninggal.

Berdasarkan kriteria klinis penyebab kematian ibu Andi Rasti disebabkan oleh emboli air ketuban. Emboli air ketuban adalah kondisi ketika air ketuban masuk dan bercampur ke dalam sistem peredaran darah menuju ke jantung . Emboli air ketuban adalah salah satu komplikasi persalinan yang jarang terjadi, tetapi sulit untuk dicegah dan dideteksi sejak dini. Kondisi ini biasanya terjadi secara tiba-tiba dan penyebabnya tidak diketahui secara pasti.

Emboli air ketuban merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil. Patofisiologinya belum dimengerti penuh. Biasa terjadi selama masa persalinan, kelahiran, atau postpartum

Kondisi janin pada saat ibu dinyatakan meninggal hanya satu kali denyutan jantung janin permenit, selanjutnya dokter memberikan penjelasan kepada suami bahwasanya dengan melakukan tindakan operasi saat itupun sangat kecil kemungkinannya menyelamatkan janinnya.

Gawat janin atau kematian janin dalam Rahim merupakan salah satu koplikasi dari emboli air ketuban.

Pihak RSUD Bulukumba juga membantah bila pasien tidak didampingi oleh perawat karena untuk pemantauan denyut jantung janin dan kontraksi di pantau tiap jam.

Tafsiran berat janin juga dalam batas normal 3458 gram (hasil USG di RS yasira), dikatakan bayi besar jika berat bayi lebih dari 4000 gram.

Pihak rumah sakit juga mengaku siap menfasilitasi pihak keluarga almarhumah bila ingin bertemu langsung dengan dokter yang menangani pasien tersebut.(*)


BACA JUGA