Karoppo Sikuyu
#

“Karoppo Sikuyu” Penganan Khas Youth Hub Jaya Bahari Bontoa Maros

Rabu, 16 September 2020 | 19:27 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

MAROS, GOSULSEL.COM — Aliansi untuk Desa Sejahtera (ADS) bekerjasama dengan Oxfam bina kelompok pemuda yang tergabung dalam youth hub Laskar Jaya Bahari, Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, mengolah daging kepiting rajungan menjadi “Karoppo Sikuyu”. Produk ini merupakan hasil olahan daging kepiting menjadi kerupuk. 

Asisten Program Officer (PO) ADS Maros Abdul Muis, mengatakan. Rabu (16/9/2020), salah satu potensi yang dimiliki Desa Bonto Bahari ialah kepiting rajungan. Olehnya, kelompok youth hub Laskar Jaya Bahari memanfaatkan itu kemudian diolah menjadi penganan sehat dan khas daerah tersebut. 

“Kita mengajak pemuda agar bagaimana mengeksplor potensi yang ada. Kemudian, kita lakukan pembinaan untuk mengolah sehingga menjadi produk yang bisa bersaing dipasaran dan mampu menunjang perekonomian warga,” katanya. 

Dalam seminggu mereka mampu memproduksi ratusan bungkus “karoppo sikuyu”. Produk ini pun dijual seharga Rp10.000 ribu per bungkusnya. Ada dua varian rasa yakni original dan pedas manis. 



“Produksi sekarang masih tergantung pesanan dulu. Mungkin, selanjutnya akan dilakukan produksi untuk kebutuhan pasar,” jelas Muis akrabnya disapa. 

Produk “karoppo sikuyu” ini sendiri dipasarkan secara online oleh kelompok pemuda youth hub Laskar Jaya Bahari. Menurut Muis, penjajakan sektor teknologi dalam pemasaran dikatakannya sangat pas. Utamanya dalam memperkenalkan produk baru ini bisa sampai kepada konsumen dengan cepat. 

“Jangkauan via online sangat luas. Jadi, sengaja untuk saat ini kita promo disitu, biar produk dikenal dan semoga bisa bersaing dengan produk-produk lainnya,” katanya. 

Muis melanjutkan, olahan kepiting ini juga menjadi pundi-pundi penghasilan pemuda youth hub ditengah wabah pandemi Covid-19. Terlebih kepada mereka yang telah kehilangan pekerjaan. 

“Kebanyakan dari mereka yang menganggur dan kehilangan mata pencaharian akibat dari pandemi ini. Kedepannya akan kita upayakan pengembangan, agar produksi “karoppo sikuyu” ini bisa berkelanjutan,” kata Muis.(*)


BACA JUGA