Plt Kepala Disdik Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan saat ditemui, Kamis (17/09/2020).

Tahun Depan, Disdik Makassar Buat Ruang Belajar Berteknologi Kecerdasan Buatan

Kamis, 17 September 2020 | 23:51 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Tahun 2021 menjadi tahun bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar membuat sejumlah terobosan terbaru. Salah satunya ialah mengadakan ‘ruangan smart’ bagi sekolah-sekolah yang terpilih. 

Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Disdik Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan. Ia pun menjelaskan jika ruangan smart tersebut, akan dilengkapi proyektor dengan teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan.

“Nanti alat peraganya nanti kita mau coba pakai artificial intelligence, kalau yang sampai sekarang pakai bola dunia masih manual, rencana kita akan coba lewat proyektor, jadi seperti ril dilihat, misalnya seolah-olah ada kupu-kupu di ruangan, konsepnya seperti itu, seperti 3 dimensi,” jelasnya saat ditemui, Kamis (17/09/2020).

Kendati demikian, ruangan smart tersebut, hanya akan ada sebanyak 5 ruangan. Masing-masing bagi 5 SD dan 5 SMP yang terpilih di Kota Makassar.



“Belum ditentukan, 5 kelas saja, 5 SD, 5 SMP. Jadi 1 SMP, 1 kelas, 1 SD juga 1 kelas. Tapi tidak semua SM dan SD (akan dipilih),” sebut kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Makassar ini.

Menurut Irwan, tujuan diadakannya ruangan smart untuk menciptakan suasana interaktif belajar mengajar yang modern dan nyaman. Sehingga, baik guru atau mahasiswa bisa merasakan manfaatnya.

“Kelas itu sistem digital, interaktif, dan tentu suasana ruangan pasti jadi lebih nyaman belajar. Informasi terupdate terus di situ. Komunikasi dengan guru, sistem digital,” katanya.

Sementara untuk anggarannya, Irwan mengaku belum mengetahui dengan jelas. Namun, ia menebak dana yang dibutuhkan ialah senilai ratusan juta untuk satu ruangan.

“Kalo sekitar Rp 400 Juta atau 800 juta per kelas, itu sudah kelengkapan mobiler serta perangkat pendukung digital yg di gunakan proses belajar mengajar. Untuk SD dan SMP, itu baru konsep karena belum tentu disetujui Bappeda,” imbuhnya. (*)


BACA JUGA