Ketua MUI Makassar, AGH Baharuddin As

MUI Makassar Masih Temukan Banyak Pedagang Potong Ayam Tak Islami

Sabtu, 28 November 2020 | 18:58 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Pedagang ayam potong rupanya masih banyak yang tidak mematuhi kaidah pemotongan hewan secara islami. Hal ini ditemukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar.

Disampaikan Ketua MUI Makassar, Anre Gurutta (AGH) Baharuddin AS, pelanggaran yang paling banyak adalah tidak membaca basmalah. Persoalan ini dapat ditemukan di pasar tradisional.

Menurut Baharuddin, kebanyakan tukang potong tidak membaca basmalah. Mereka terburu-buru dalam memotong karena banyaknya hewan yang harus dipotong. Padahal, itu tidak sesuai dengan syariat Islam.

“Pelanggaran yang paling banyak ditemukan di lapangan adalah kelalaian tidak membaca basmalah, akibat banyaknya hewan yang mau dipotong. Karena mau mempercepat sehingga tidak memperhatikan bacaan basmalah sehingga tidak memperhatikan,” ungkapnya, Jumat (27/11/2020).



Terlebih, ia mengatakan bahwa banyak hewan potong yang mati bukan karena disembelih dengan baik. Melainkan mati dikarenakan air panas setelah proses pemotongan. Sekali lagi hal itu dikarenakan pemotong yang terburu buru.

“Banyak ditemukan ayam seakan-akan bukan karena pemotongan, itu yang menyebabkan mati tetapi belum dipotong baik langsung dikasi masuk di air panas, seakan akan air panas itu yang menyebabkan mati. Itu yang tidak boleh karena mau cepat,” tutur Baharuddin.

Olehnya, MUI Makassar berinisiatif menggelar sosialisasi terhadap tata cara pemotongan hewan yang baik dan benar. Dengan menyasar usaha rumah potong hewan maupun yang berada di pasar tradisional.

“Banyak ditemukan di lapangan utamanya di pasar pasar tradisional di Kota Makassar fatwa MUI pusat yang berkaitan dengan pemotongan hewan yang syar’i, kita sosialisasikan kami panggil pakarnya baik segi agama maupun pemerintah,” bebernya.

Lebih jauh, ia mengimbau agar masyarakat terlebih dahulu membaca basmalah sebelum memakan ayam atau hewan potong lainnya. Sebab, rasa keraguan kerap kali muncul karena apakah hewan yang dibeli dan dikomsumsi tidak dipotong dengan benar atau tidak.

“Pendapat ulama, kalau umpamanya dia lupa, termasuk orang yang ragu apakah ini makanan tidak disembelih basmalah atau tidak, nanti dibacakan basmalah ketika mau makan,” tutupnya.(*)


BACA JUGA