Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia merayakan hari jadinya yang kedelapan melalui zoom, Minggu (13/12/2020)

Rayakan Hari Jadi ke-8, KJB Indonesia Ajak Tebar Kebaikan Melalui Karya Jurnalistik

Minggu, 13 Desember 2020 | 22:54 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia merayakan hari jadinya yang kedelapan. Dalam kondisi pandemic Covid-19, perayaan yang dilakukan menggunakan zoom tersebut, bertajuk Webinar Nasional dengan tema “Menebar Kebaikan Melalui Karya Jurnalistik.

Tiga narasumber dalam acara tersebut adalah Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi Metro TV, Balques Manisang, News Produser dan host tvOne, serta Lalita Gandaputri, News Produser Metro TV dan member KJB Indonesia.

Acara ini nantinya akan disiarkan melalui aplikasi zoom dan youtube Komunitas Jurnalis Berhijab.



Webinar yang dihadiri oleh 246 peserta dari para members KJB Indonesia, akademisi dari beberapa universitas, komunitas dan masyarakat umum penyuka jurnalistik, Minggu (13/12/2020).

Dalam webinar tersebut, Arief Suditomo banyak memberikan pesan dan kesan sebagai jurnalis di hadapan peserta dari beberapa daerah di Indonesia seperti, Jabodetabek, Jogja, Malang, Sumbawa, Banjarmasin, Medan, Makasar, Aceh dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Sesuai tema yang diusung yaitu menebar kebaikan melalui karya jurnalistik, Arief menyebutkan bahwa kita harus terus menanamkan jurnalisme kebaikan karena di sekitar para jurnalis terlalu banyak toxic yang membawa ke arah negatif.

“Jadi buat temen-temen KJB ini merupakan sebuah silaturahim yang baik pada akhirnya untuk kita sama-sama mengumpulkan energi buat memberikan kontribusi dalam bentuk jurnalisme kebaikan bagi publik kita. Kemudian terus memberikan kontribusi tersebut karena dunia kita ini kadang-kadang perlu konstribusi tersebut ya dalam bentuk jurnalisme kebaikan, terlalu banyak toxic disekitar kita, terlalu banyak problem-problem yang pada akhirnya membawa kita kearah-arah yang sangat negatif,” ucap Arief.

Arief menyebutkan bahwa semangat menebar kebaikan jurnalistik harus ditanamkan mulai dari keseharian kita. Kita sering denger kalau kita berfikir baik maka hasilnya baik, kita membawa masyarakat dengan nilai-nilai positif ini merupakan hal yang baik juga.

“Salah satu program di media kami seperti liputan dengan BenihBaik.com menunjukan, dengan liputan ini kita sekaligus bisa mengajak masyarakat menyumbang dana, tenaga dan bisa membangun beberapa insfrastruktur di beberapa daerah di Indonesia. Sehingga kita tidak hanya konsentrasi pada financial sourching atau uang, kita juga bisa menyumbang tenaga dan barang sesuai dengan kebutuhan yang disasar. Salah satunya program Newsline Metro TV yang merupakan positf journalism atau jurnalisme positif,” tutur Arief, pria yang sudah lebih dari 22 tahun menekui bidang jurnalistik tersebut.

Di sisi lain menurut Balques Manisang, wanita kelahiran Solo tersebut menyebutkan, menjadi jurnalis bukanlah sebuah kekuatan akan tetapi merupakan sebuah kehormatan. Balques juga menekankan pentingnya menjadi jurnalis yang mempertahankan peran jurnalis sebagai pilar demokrasi. Ia juga mengatakan untuk masing-masing jurnalis juga harus bisa mencari celah menerapkan idealisme sebagai seorang jurnalis.

“Selalu luruskan niat kita bahwa menjadi jurnalis itu menjadi pilar ke empat demokrasi jadi pertahankan pilar itu, kita sebagai pilar demokrasi,” ucap Balques.

Kemudian terkait jurnalisme kebaikan, dirinya dalam program Fakta tvOne yaitu program semi investigasi yang dia bawa, banyak manfaat yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dari program tersebut mengingatkan kita untuk melihat kondisi rakyat sesungguhnya, sehingga bisa menyuarakan pihak yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara dipublik atau voice the voiceless.

“Seperti kasus reklamasi pantai di Jakarta Utara, kita menyuarakan suara para nelayan terkait kesejahteraan mereka. Akhirnya terjadi komunikasi antara nelayan, pemerintah dan perusahaan. Kemudian beberapa liputan lainnya menunjukan bahwa karya jurnalistik juga bisa memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” lanjutnya.

Di sisi lain, menurut Lalita Gandaputri, news produser Metro Tv menekankan tentang wanita berhijab tak perlu takut untuk menjadi jurnalis. “Dulu awal karir saya sebagai jurnalis yang berhijab, awal tahun 2007 saat itu masih belum banyak jurnalis berhijab karena Jurnalis Berhijab di TV. Standart Jurnalis TV melepaskan simbol-simbol agama. Tantangan bagi saya, saya pernah tidak diterima karena hijab saya di lingkungan konflik di beberapa wilayah di Indonesia. Namun kondisi sekarang berbeda, kita bisa tetap menunjukan netralitas kita dengan berhijab dan terus memberikan karya jurnalis yang menebar kebaikan,” ungkapnya.

Kemudian Lalita menambahkan, jurnalis memiliki posisi istimewa karena menjadi mata dunia, kita mewakili mata masyarakat yang tidak bisa langsung melihat berbagai peristiwa. Kemudian kita sebarkan informasi itu kepada masyarakat sesuai dengan fakta di lapangan.

“Tugas jurnalis itu tugas mulia, kita melakukan pekererjaan untuk masyarakat sehingga tanggung jawab kita sangat besar. Kita harus menginformasikan berita yang benar,” pungkas wanita yang telah 14 tahun menjadi jurnalis ini.(*)


BACA JUGA