Komisaris Bank Syariah Nasional (BSN), Arif Rosyid Hasan saat ditemui di Cafe Habitus, Senin (21/12/2020)

Merger Bank Syariah, Komisaris Arief Rosyid Komitmen Buat BSI Berdaya Saing Global

Selasa, 22 Desember 2020 | 11:50 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) merupakan bank hasil penggabungan tiga bank syariah BUMN yang dimerger dengan tenggat terlaksana 1 Februari 2021. Mereka yang merger ialah Bank BRI Syariah, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Komisaris Bank Syariah Indonesia (BSI), Arif Rosyid Hasan memaparkan tantangan ekonomi syariah di Indonesia. Ia menyebut jika pemahaman masyarakat ihwal literasi syariah masih sangat minim. Hal itu berdampak pada tingkat nasabah bank syariah.

“Masyarakat yang ingin menabung dan melakukan transaksi di Bank Syariah baru mencapai 6,18 persen. Artinya cuma 6 orang dari 100 orang yang ada yang mau menabung di Bank Syariah. Ini jadi PR kita,” kata Arif saat ditemui di Cafe Habitus, Senin (21/12/2020).

Sementara, dikatakan Arif, tingkat literasi masyarakat baru mencapai 8,39 persen. Kemudian inklusi keuangan Ekonomi Bank Syariah hanya 9,1 persen.

Kendati demikian, ia berkomitmen agar Bank Syariah terbesar di Indonesia ini akan berdaya saing global. Lalu memiliki potensi menjadi 10 bank syariah teratas secara global berdasarkan kapitalisasi pasar.

Selain itu, Bank Syariah ini juga akan memiliki jaringan yang luas. Didukung oleh lebih dari 1.200 cabang yang akan cukup untuk melayani permintaan pada tahun 2024.

“Pendapatan signifikan dan sinergi biaya ke depan yang akan memberikan hasil kontribusi positif bagi pertumbuhan Bank Hasil Penggabungan,” lanjut Arif.

Menurutnya, gabungan tiga bank syariah BUMN ini akan menghasilkan total aset mencapai Rp214,65 triliun. Di mana terdiri dari aset BSM Rp114,40 miliar, BNI Syariah Rp50,76 triliun, dan BRIS Rp49,58 triliun.

Gabungan pembiayaan, disebutkan Arif, akan mencapai Rp144,34 triliun, dan DPK gabungan mencapai Rp186,42 triliun. Adapun laba Q2-2020 digabung mencapai Rp1,10 triliun.

“Gabungan bank ini sudah sejak 2015 namun baru terealisasi di 2020 ketika kepemimpinan Erick Tohir,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengatakan gabungan Bank Syariah BUMN ini akan memiliki  kemampuan untuk merambah perusahaan besar yang didukung oleh produk syariah baru yang mampu bersaing secara global dan menjanjikan bisnis baru.

Selain itu, Arif menegaskan akan terus mendukung Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Seperti yang sudah dilakukan selama ini. 

Proyeksi dana yang akan disalurkan pun mencapai Rp53,83 triliun. Adapun persentase penyaluran bagi UMKM dari tiga bank syariah yang akan merger ini diproyeksikan akan mencapai 23 persen pada Desember 2021 dari total pembiayaan.

“Dukungan bagi UMKM tidak akan kendor,  karena merekalah tulang punggung perekonomian nasional. Kalau anak muda di Bank Syariah ada 72,5 persen,” pungkasnya.(*)