Diskusi Akhir Tahun HMI Cabang Makassar Timur berlangsung di Warna Warni Cafe, Selasa (29/12/2020)

Diskusi Akhir Tahun HMI Makassar Timur, Bahas Kebhinekaan dan Toleransi

Rabu, 30 Desember 2020 | 14:42 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Pelepasan akhir tahun 2020 diadakan dengan diskusi intelektual oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur. Diskusi berlangsung di Warna Warni Cafe, Selasa (29/12/2020).

Diskusi akhir tahun ini mengangkat tema “Toleransi dan Kebhinekaan”. Kemudian digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 yang ketat. 

“Tujuan kegiatan dilaksanakan untuk memberikan kita refleksi kepada pergerakan kebangsaan kita persoalan toleransi dan kebhinekaan yang semestinya menghiasi kehidupan kita dalam ber-Indonesia,” kata Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur, Ardiansyah Syamsuddin.

Kegiatan dihadiri lebih dari 40 orang. Mereka diberikan pembasahan perihal suatu sudut pandang lokalitas dan keindonesiaan melihat masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam menanggapi keindonesiaan. 

Diskusi dibawakan langsung tiga pemateri. Diantaranya, Wakil Dekan Kemahasiswaan Fakultas Hukum (FH) Unhas, Muh Hasrul, Andi Sri Wulandani selaku Direktur Lembaga Kerja Penelitian Publik, dan Kepala Balai Litbang Agama Makassar, yakni Saprillah.

“Spirit keindonesiaan harus mampu dirawat melalui kacamata toleransi-toleransi yang menjadi pupuk dalam menjaga kemasyarakatan kita. Menjadikan kita masyarakat adil makmur dalam melihat indonesia,” ujar Andi Sri.

“Keberagaman daan kemajemukan seharusnya menjadi kelebihan utama dalam melihat indonesia karena hidup bertoleransi merupakan cita-cita yang semestinya dicapai dalam masyarakat sejahtera,” sambungnya.

Salah satu peserta diskusi, Achmad Husein Nyompa menanggapi diskusi ini. Ia menilai bahwa kegiatan tersebut rupanya mampu mengasah kemampuan dalam merawat keindonesiaan. 

Ia pun juga memahami bahwa keindonesiaan tidaklah bersifat sesempit dan sekecil tanah kelahiran daerah saja. Namun mencakupi lebih luas dari itu.

“Dengan dilengkapi keberagaman budaya dan pemikiran yang telah tumbuh dan terbangun dalam masyarakat yang luar biasa rukun,” jelasnya. 

Senada dengan hal itu, Syahrul Ramadhan selaku Moderator diskusi, menutup diskusi. Ia mengatakan bahwa sebagai rakyat Indonesia mampu menjaga persatuan dan menjadi manusia pancasilais yang hidup rukun. Utamanya dalam menjaga nilai-nilai adat toleransi dan kebhinekaan.(*)


BACA JUGA