PD Terminal Makassar Metro menggelar konferensi pers di Terminal Daya, Selasa (23/02/2021)

Tak Ingin Dibubarkan, Ini Permintaan PD Terminal ke Pemkot Makassar

Selasa, 23 Februari 2021 | 19:32 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Perusahaan Daerah (PD) Terminal Makassar Metro berada di ambang keputusasaan. Statusnya hingga kini masih terkatung-katung. Bahkan, dikabarkan bakal dibubarkan.

Ada beberapa masalah yang rupanya menjadi penyebab. Seperti regulasi yang tidak jalan, rendahnya penarikan retribusi sewa terminal, dan retribusi sewa lahan/ruko yang dikuasai oleh pihak ketiga.

Hal ini disampaikan oleh Direktur PD Terminal Makassar Metro, Arsony. Menurutnya jika hal ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin PD Terminal akan mati.

Arsony pun meminta Pemkot tegas dalam menerapkan regulasi agar PD Terminal bisa bertahan. Juga mengembalikan pengelolaan lahan ke pihaknya dan menaikkan tarif sewa.

“Untuk regulasinya, Pemkot harus tegas melarang pembongkaran muatan dilakukan di luar terminal, serta pengelolaan lahan dikembalikan ke kami,” ujarnya, Selasa (23/02/2021).

“Apalagi saat ini sewa lahan yang kami terima tidak banyak, hampir 85 persen dikuasai KIK (Kalla Inti Karsa) sewa lahan tidak banyak hampir semua 85 persen,” jelas Arsony.

Menurutnya, jika pengelolaan dikembalikan ke pihak PD Terminal, maka potensi pendapatan akan jauh meningkat. Potensi yang lain pun juga bisa digarap untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

“Di sini ada sekitar 500 unit klaster bangunan, sewa normal bangunan mirip departemen store, di angka Rp2,5 Juta, jika diakumulasi pendapatannya, kalau rutin membayar perbulan bisa Rp750 Juta. Yang tadinya kita cuma dapat Rp 300 sampai Rp400 juta, berarti ada potensi baru,” sambungnya.

Dikatakan Arsony, pihaknya sudah sempat melakukan pertemuan dengan Pj Wali Kota, Rudy Djamaluddin, untuk meminta kenaikan retribusi/tarif. Namun, melakukan penaikan tarif bukanlah regulasi yang populer, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.

“Padahal mereka tidak tahu, yang masuk kesini adalah pengusaha, dengan keuntungan miliaran. Tapi sudah sangat nyaman dengan retribusi yang sedikit, jadi harus dikaji ulang,” jelasnya.

Pihaknya juga tidak bisa memungkiri, secara pendapatan, PD Terminal mengalami keterpurukan. Apalagi di masa pandemi Covid-19.

Pada tahun 2019, PD Terminal bisa mendapat Rp14 Juta per hari. Sementara pada tahun 2020 menurun jadi Rp2 Juta perhari saja.

“Karena waktu itukan terminal untuk angkutan umum sempat ditutup, jadi kami hanya pendapatan kami hanya dari sewa lahan atau ruko. Tapi di 2021 ini sudah naik lagi sekitar Rp4 sampai Rp5 juta perhari,” terangnya.

Ia pun kembali menegaskan, saat ini pihaknya sangat mengharapkan perhatian dari Pemkot. Khususnya mengenai, penyerahan aset, penyesuaian tarif, dan kembali menegaskan Perda soal fungsi terminal.

“Kenapa pengembalian fungsi terminal itu penting dilakukan? Karena jika terminal berfungsi dengan baik, maka akan berdampak kepada pengurangan kemacetan,” katanya 

Dijelaskan Arsony, jika ketiga hal ini tidak bisa diwujudkan oleh Pemkot, maka pihaknya meminta penyertaan modal. Sehingga, pihaknya bisa terus bertahan.

“Kami disini bukan pengguna anggaran, jadi kami cari sendiri, dan belanja sendiri, tidak pernah pakai APBD. Jika hal tadi tidak bisa dipenuhi, tentu mustahil target Deviden kami sebanyak Rp9 Miliar bisa tercapai, bahkan PD Terminal bisa mati,” tutupnya.

Diketahui, saat ini ada 3 terminal yang dikelola PD Terminal Makassar Metro. Yakni Terminal Daya, Terminal Mallengkeri, dan Terminal Toddopuli.(*)


BACA JUGA