Pasien Covid-19 yang hendak isolasi di Kapal KM Umsini/Ist

Sejumlah Pengamat Soroti Isolasi Pasien Covid-19 di Kapal Apung

Minggu, 08 Agustus 2021 | 15:23 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Isolasi apung yang dilakukan oleh Pemkot Makassar masih memiliki sejumlah kekurangan, mulai dari laporan sarana dan prasarana yang belum memadai dan isu higienitas yang belum tertata dengan baik

Salah satunya yang disampaikan Ahli Epidemiologi Unhas, Ansariadi. Ia pun menjabarkan sejumlah kriteria isolasi apung yang ideal bagi pasien Covid-19.

Ansariadi mengatakan prinsip dasar isolasi adalah memisahkan masyarakat yang sakit dan sehat, hanya saja hal ini tetap memperhatikan sejumlah kaidah, bagaimana memperlakukan masyarakat yang diisolasi dengan benar.

“Orang itu kalau diisolasi adalah bagaimana kenyamanannya, bagaimana keamanannya dan juga bagaimana kesehatannya harus dipikirkan, supaya selama di tempat isolasi itu tidak menimbulkan masalah baru,” katanya.

Jangan sampai masyarakat yang diisolasi tersebut justru menimbulkan persoalan baru dengan hadirnya penyakit baru. Itu akibat buruknya higienitas dan tingkat stres yang tinggi.

“Jadi pada prinsipnya higienitas itu terpenuhi, karena ini jangan sampai ada penyakit baru yang muncul,” lanjut Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas ini.

Selain itu tempat isolasi yang ideal adalah bagaimana akses ke lokasi tempat rujukan bisa mudah, untuk memastikan situasi dapat terkendali jika kemudian terjadi situasi kritis.

Ia menilai isolasi yang baik utamanya pada aspek yang baru seperti kapal semestinya memerlukan assessment dari para ahli penyakit. Terlebih isolasi apung di atas kapal KM Umsini menggunakan sistem penggabungan pasien.

“Saya kira ini perlu assessment dari ahli penyakit lain, bagaimana kalau mereka yang sakit bisa bergabung-gabung, orang ini takutkan jangan sampai mungkin bergabung ada varian baru dan lama, sudah mau sembuh terinfeksi kembali. Ini perlu ada yang jelaskan ahli penyakit untuk yang infeksi seperti itu,” ucapnya.

Privasi juga menurutnya cukup penting, dalam memberikan kenyamanan ke penumpang. Pemerintah perlu lebih banyak melakukan penyesuaian dengan hal-hal ini, lantaran kapal sedari awal tidak didesain untuk tempat isolasi.

“Pasti banyak keluhan desainnya tidak sama hotel kala dulu hotel satu dua orang dan ada lengkap dalam, kalau kapal tidak didesain untuk isolasi sehingga akan banyak menyesuaikan,” katanya.

Menurutnya, meskipun harga yang ditawarkan lebih murah namun jika peminat minim dengan buruknya aspek tersebut akan percuma. Output yang diharapkan tetap tidak akan tercapai.

“Jadi ada beberapa pertimbangan misal murah tapi tidak ada yang mau, misal murah tapi orang tidak nyaman tidak mau ke sana. Kemudian murah tapi justru timbulkan masalah baru. Murah itu salah satu pertimbangan, tapi pertimbangan lain juga harus diperhatikan,” pungkasnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulselbar Abdul Azis juga angkat bicara terkait kriteria isolasi yang ideal. Menurutnya aspek kenyamanan juga menjadi faktor penting dalam sistem isolasi karena berpengaruh langsung dengan tingkat stress seseorang.

“Tempat isolasi itu sebaiknya tidak memicu stres, makanya di lingkungan yang betul-betul bagus, ruang terbuka mungkin pemandangan yang bagus supaya tidak stress. Karena ini sangat ngaruh dengan imunitas kita,” katanya.

Semisal tempat isolasi dipastikan bisa lebih terbuka agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Tempat tertutup yang dilengkapi AC hanya membuat udara berputar sehingga resiko cukup tinggi.

“Sebaiknya ada ventilasi terbuka. Misal ada jendela, kemudian itupun kalau bisa pakai kipas angin, karena kalau AC itu, apalagi tertutup, itu bisa terputar-putar tidak keluar,” ucapnya.

Selain itu aspek privasi juga perlu diperhatikan, hanya saja kata dia akan memakan anggaran yang cukup tinggi. Namun hal ini dianggap akan lebih aman dengan adanya ruangan tersendiri. Ketersediaan obat-obatan hingga gizi bagi pasien juga wajib diperhatikan karena merupakan faktor penting dalam menambah imunitas.

Sementara itu kalaupun terjadi percampuran dalam satu ruangan, setiap pasien tetap wajib menggunakan masker. Hal ini lantaran adanya kekhawatiran perbedaan varian virus.

“Isoman yang bercampur sesama positif, masker harus tetap dikenakan. Karena kita tidak tau siapa yang punya kekuatan aktivasi virus, inikan tidak ditau siapa yang varian delta siapa yang biasa. Dan kita imunitas berbeda saya kena varian biasa, kita Delta, itu saya sudah bisa bergejala (Delta). Jadi ini masalah tingkat keterpaparan, jangan bilang kita isoman karena sama positif dan tidak masker. Tingkat keterpaparan di kita itu berbeda-beda,” tukasnya. (*)


BACA JUGA