Antisipasi Perubahan Iklim, Kementan Dorong Budidaya Padi Rendah Emisi

Jumat, 18 November 2022 | 14:57 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Pertanian merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim sehingga adaptasi dengan menggunakan teknologi rendah karbon menjadi prioritas. Penggunaan varietas padi rendah emisi menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai target penurunan emisi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan sektor pertanian memiliki dampak pada emisi. Tanaman padi mempunyai pengaruh gas metana selain itu juga dipengaruhi oleh jenis varietas padi yang digunakan. Beberapa varietas padi memiliki emisi metana tinggi tetapi memiliki produktivitas yang tinggi juga. Serta ada juga varietas yang produksi gas metananya rendah dan produktivitas tinggi. Kemudian ada juga varietas yang produksi metananya rendah namun produktivitasnya kurang tinggi.

“Nah ini merupakan pilihan-pilihan yang harus kita pilih secara bijak bagi petani untuk mengambil keputusan. Mari kita melakukan budidaya padi secara bijak, sesuai SOP tanpa mengurangi produksi tapi juga mampu mengendalikan emisi metana dengan baik sehingga berkontribusi dengan lingkungan. Secara keseluruhan bertani itu baik untuk lingkungan, karena menghasilkan sumber oksigen. Bertani secara ramah lingkungan, penggunaan benih secara bijak, pengelolaan air dikelola dengan baik itu cukup kontribusi terhadap pemanasan global khususnya gas metana,” kata Suwandi dalam webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani bertajuk Budidaya Padi Rendah Emisi, Jumat (18/11/2022).

Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Wahida Annisa Yusuf menjelaskan besarnya emisi metana (CH4) dari tanaman padi dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks dan dinamis antara tanaman, lingkungan dan mikroorganisme. Tanaman padi mempunyai peran yang penting dalam pelepasan emisi CH4. Kondisi tergenang menciptakan suasana anaerob yang memicu bakteri metanogen untuk memproduksi gas metana.

“Tahapan budidaya padi rendah emisi yang pertama penyiapan lahan menggunakan kalender tanam dan bahan organik matang. Kemudian pemilihan benih menggunakan varietas padi rendah emisi gas metana. Beberapa varietas padi rendah emisi, diantaranya adalah Ciherang, Mekongga, Batanghari, Cigeulis, Memberamo, Inpari 6, Inpari 13, Inpari 19, Inpari 28 dan Inpari 32,” jelasnya.

Yang ketiga, sambungnya, pemupukan berimbang dengan memberikan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman dan status hara tanah yang digunakan. Dan yang terakhir adalah pemeliharaan tanaman dengan pengaturan air yaitu mengelola air dengan cara pengairan berselang.

“Budidaya padi lahan sawah merupakan salah satu penyumbang emisi GRK terutama CH4, perlu adanya teknologi budidaya padi yang tepat untuk mengurangi emisi tanpa mempengaruhi hasil,” ujarnya.

Sementara itu, Lead Project Manager-Switch Asia Low Carbon Rice, Angga Maulana Yusuf memaparkan projek low carbon rice berupaya meminimalkan dampak produksi beras terhadap iklim dengan menerapkan metode produksi berkelanjutan di tingkat penggilingan padi. Beberapa hal yang ingin dicapai dari projek ini diantaranya adalah memungkinkan kondisi dan mendukung kebijakan untuk produksi beras berkelanjutan yang diciptakan melalui fasilitasi dialog kebijakan.

“Kemudian adanya model tata kelola sektor beras berkelanjutan yang lebih inklusif yang dikembangkan melalui fasilitasi multipihak. Lalu juga peluang akses pasar untuk beras berkelanjutan dapat ditingkatkan melalui fasilitasi keterlibatan sektor swasta,” paparnya.

“Selanjurnya khusus untuk penggilingan perlu adanya modal atau investasi baik dari sisi mesin maupun pelatihan dan lain-lain, maka dalam projek ini dibantuk agar petanu dapat melakukan akses peluang pembiayaan ditingkatkan bagi produsen beras melalui bantuan teknis dan model bisnis baru,” pinta Angga.(*)


BACA JUGA