#TRENDING
Pemilik Qahwa Coffee Roastery, Sulfahmi Sulaeman (31) memperlihatkan produk kopinya di ruko Jalan Tanjung Alang, Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Rabu (10/6/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Dari Barista Jadi Pengusaha, Kisah Sulfahmi Andalkan Pasar Digital Kenalkan Kopi Sulawesi

Sunday, 14 June 2026 | 16:02 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Sulfahmi Sulaeman (31), anak muda asal Ujungloe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan lagi giat-giatnya menjalankan bisnis roasting kopi.

Nama bisnisnya adalah Qahwa Coffee Roastery. Dia menyewa sebuah rumah toko (ruko) sebagai tempat roasting-nya di Jalan Tanjung Alang, Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Qahwa buka setiap harinya mulai pukul 08.00 sampai 22.00 WITA di lantai 2 ruko tersebut. Sementara di lantai dasar, ada kedai kopi yang sudah bekerjasama dengannya.

PT-Vale

Suasana di lantai dua memang tampak sepi namun alat roasting tidak pernah berhenti beroperasi. Pelanggan yang datang juga tidak banyak tetapi pasar digital-nya laris manis.

“Kita memang lebih fokus di penjualan lewat e-commerce sama marketplace Facebook,” ucapnya saat dijumpai, Rabu (10/6/2026).

Sebelum merintis bisnis roasting kopi, Sulfahmi dulunya adalah seorang barista. Profesi ini digelutinya setelah menyelesaikan kuliah di STIEM Bongaya pada tahun 2016.

Pemilik Qahwa Coffee Roastery, Sulfahmi Sulaeman (31) mengecek produk kopinya, Rabu (10/6/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Di tengah perjalanan, dia melihat peluang pasar yang besar untuk bisnis kopi. Sehingga, dari pengalamannya sebagai barista, dia berani menjalankan bisnis roasting di akhir tahun 2018.

“Makanya saya coba-coba roastery. Ternyata peluang pasarnya lumayan,” ujar Sulfahmi.

Dia lalu memilih biji kopi arabika dan robusta dari Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat untuk rosting. Aromanya harum, perpaduan rasa yang unik, hingga tingkat keasaman cerah yang halus menjadi pertimbangannya.

Selain itu, biji kopi Mamasa selalu tersedia dipesan. Dengan begitu, Sulfahmi bisa menjaga rantai pasok atau supply chain yang artinya ketika ada permintaan, stok selalu tersedia.

“Poin lebihnya adalah mereka punya stok yang besar. Artinya konsistensi dan selalu ada stok itu bisa terjamin,” tambahnya.

Belakangan, Sulfahmi mulai melirik biji kopi lainnya, yaitu dari Kabupaten Enrekang (Angin-angin), Tana Toraja, Bantaeng (Banyorang), Bulukumba (Kindang), dan Luwu Utara (Seko)

“Semua itu didapat karena ada jaringan dari teman-teman yang ikut pelatihan,” lanjutnya.

Untuk memasarkan biji kopi itu, Sulfahmi fokus menyasar pasar digital dengan menjualnya di e-commarce dan marketplace Facebook.

Pemilik Qahwa Coffee Roastery, Sulfahmi Sulaeman (31) saat mengambil biji kopi dari sebuah boks, Rabu (10/6/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Pasar digital dipilihnya karena persaingan bisnis roasting kopi yang semakin ketat di Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar. Selain itu, kedai kopi pun mulai membuka roastery sendiri.

“Artinya karena banyak yang buka roastery, permintaan akan berkurang. Makanya saya kebanyakan jual online,” jelas Sulfahmi.

Keseriusannya di pasar digital mendorong Sulfahmi untuk ikut program BRIncubator pada tahun 2024 yang digelar Rumah BUMN Makassar.

Melalui program BRIncubator, bisnis roasting kopi milik Sulfahmi didorong semakin naik kelas. Berbagai pelatihan sesuai kebutuhannya dan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersedia untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya.

Saat itu, Sulfahmi mengaku banyak belajar soal konsep branding, salah satu materi yang dapat mendongkrak bisnisnya di pasar digital.

“Branding, media sosial, terus bagaimana konsep branding-nya dan seterusnya. Itu yang menurutku bagus,” ucap Sulfahmi.

Sulfahmi juga memperkuat jaringan penjualannya. Dia melihat BRI selaku pengelola Rumah BUMN sebagai salah satu bank terbesar yang punya jejaring luas terhadap pembeli.
“Ya harapannya sebenarnya kita lebih dipermudah untuk urusan itu. Sama kebetulan kan kalau BRI juga biasanya diikutkan event,” jelasnya.

Berkat BRIncubator, Qahwa Coffee Roastery semakin kuat di pasar digital. Di tengah persaingan bisnis yang ketat, Sulfahmi terus mengembangkan usahanya, bahkan telah menembus pasar Jepang.

“Kalau Jepang sudah ada pembeli di sana, kita secara bertahap distribusinya,” tutup Sulfahmi.

Keberhasilan Sulfahmi membangun Qahwa Coffee Roastery menjadi bukti bahwa pasar bisnis kopi masih luas. Dengan menyasar pasar digital dan didukung BRI melalui BRIncubator kini usahanya semakin berkembang.

BRI Regional 15 Makassar sendiri menghadirkan Rumah BUMN yang beralamat di Jalan Ratulangi, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Di dalamnya, ratusan produk terpajang mulai makanan dari UMKM yang telah ikut program BRIncubator.

Leader Project Rumah BUMN, Ayu Anisela menjelaskan, program BRIncubator digelar rutin untuk mengakomodir semua UMKM di Sulawesi Selatan terkhusus Kota Makassar.

“Setiap empat bulan sekali kita gelar, kemarin kita buka waktu bulan April kemarin,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ayu mengatakan, semua jenis UMKM pun bisa mendaftar, mulai dari food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft.

“Usaha jasa belum tapi kita coba ke depan untuk ikutkan,” tambahnya.

Adapun pendaftaran bisa diumumkan melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar. Syaratnya cukup memiliki usaha yang berjalan, tetapi dibuka juga bagi yang belum punya bisnis asal memiliki rekening BRI.

“Kalau tidak ada rekening atau QRIS bisa juga nanti kita proses,” kata Ayu.

Rumah BUMN turut memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM yang mau lebih berkembang lewat suntikan pinjman modal dengan bunga yang ringan. Kemudian akan diproses ke BRI Region 15 Makassar.

“Kalau kita KUR di sini cuma menjembatani UMKM yang mau nanti kita dampingi pengurusannya,” lanjutnya.

BRI Region 15 Makassar mencatatkan 6.422 UMKM yang telah didorong naik kelas berkat pendampingan dan penerima KUR melalui Rumah BUMN.

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto mengatakan bahwa dominasi BRI tidak hanya pada penyaluran KUR. Perusahaan turut melakukan pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable, salah satunya dengan pendampingan UMKM lewat Rumah BUMN.

“Selain memberikan modal berupa kredit (KUR), kami juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.

Selain itu, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kami ingin bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tutup Iwan. (*)


Tags: