Pangeran Diponegoro, Fort Rotterdam, Pangeran Hendrik Belanda, Pangeran Hendrik, Wisata Sejarah, Wisata Sejarah Makassar, Jalan Ujungpandang
Ruang yang jadi kamar tidur Pangeran Diponegoro saat jadi tawanan Belanda. Kini, ruangan ini jadi Perpustakaan Budaya di Fort Rotterdam. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Kisah Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam & Preservasi Sejarah yang Cacat

Kamis, 31 Desember 2015 | 09:28 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Salah satu magnet Fort Rotterdam, Jl Ujungpandang, adalah kisah berbagai pahlawan yang sempat diasingkan di jaman kolonial Belanda. Salah satunya adalah Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro adalah anak raja dari Sultan Hamengku Buwono III. Ia dibuang ke Makassar karena dianggap sebagai sebuah ancaman oleh Belanda.

“Pangeran Diponegoro merupakan anak raja dari Sultan Hamengku Buwono, Sultan atau Raja Yogyakarta, yang diasingkan oleh Belanda ke Makassar tahun 1834 karena mengancam ketenteraman tentara Belanda saat itu,” ujar Djamaluddin, budayawan, saat berbincang-bincang dengan GoSulsel.com, Minggu (27/12/2015).

Menurutnya, Pangeran Diponegoro sangat ditakuti oleh Belanda saat itu karena pemikirannya yang keras dan beliau juga anti kepada orang-orang yang ia anggap kafir. Dan tak kalah menakutkannya adalah kemampuannya menumpas para pasukan Belanda.

“Bayangkan saja! Dari 1.500 pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro meluluhlantakkan semua prajurit tersebut. Ini juga sebagai salah satu ancaman terbesarnya Belanda. Akhirnya ia diasingkan ke Makassar,” kata Djamaluddin yang waktu itu sedang berada di Gedung Informasi Budaya Rotterdam.

Halaman 2

Penuturan Djamaluddin didasarkan pada buku karangan Prof Pietter Carry berjudul Kuasa Ramalan. Dari buku yang memakan waktu 30 tahun sebelum rilis itu, ia mendapat keterangan bahwa Pangeran Diponegoro tidaklah dikurung dalam jeruji besi yang ada di dalam benteng. Pangeran yang melepas hak tahtanya ini hanya ditempatkan di dalam benteng.

“(Tentang lokasi kamar Pangeran Diponegoro dalam benteng) Dalam bukunya, yang dimana dilampirkan dalam buku, di situ prajurit menunjuk mengarah ke arah Timur Benteng Fort Rotterdam. Yang menunjuk ke Gedung J dimana fungsinya sekarang sebagai Perpustakaan Budaya di sini,” terangnya.

Dalam buku soko guru asal Inggris itu, juga dijelaskan kalau Belanda tak akan pernah menawan para sultan dengan penjara yang tidak layak, melainkan ada perlakuan khusus.

“Kalau diteliti dari kata demi kata, memang sangat tidak layak. Apalagi saat itu ia diketahui sebagai anak raja. Entah apa yang membuat ia diperlakukan khusus, tapi menurut ceritanya memang seperti itu perlakuan Belanda pada bangsawan,” ujarnya.

Bukan hanya itu saja, kedatangan Pangeran Hendrik juga jadi alasan mengapa ia diperlakukan istimewa. Sebagai anak Raja Belanda, ia takjub akan kepemimpinan putra Yogyakarta itu. Hingga akhirnya datang ke Makassar hanya untuk bertemu Pangeran Diponegoro.

Halaman 3
Pangeran Diponegoro, Fort Rotterdam, Pangeran Hendrik Belanda, Pangeran Hendrik, Wisata Sejarah, Wisata Sejarah Makassar, Jalan Ujungpandang

Jeruji besi simbolis yang dibangun oleh para pereservasi sejarah pengasingan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

“Dalam ceritanya, Pangeran Hedrik sempat bertemu dan berkenalan dengannya, hingga akhirnya menjadi tawanan yang diperbolehkan melakukan aktivitas oleh Belanda menunggang kuda di halaman benteng dan aktivitas lainnya. Serta tetap diberi upah meski menjadi tawanan Belanda,” ungkapnya.

Selama jadi tawanan, istrinya pun ikut menemani beserta anak-anaknya. Hingga akhirnya meninggal di kamarnya tahun 1855 yang menjadi perpustakaan budaya benteng Fort Rotterdam saat ini dan dimakamkan di Kampung Jawa di Makassar.

“Sebelumnya meninggal, Pangeran Diponegoro sudah memiliki rumah di Kampung Melayu Makassar. Dan di situlah istri beliau tinggal hingga akhir hayatnya, dimana keluarganya dilepaskan dari tawanan karena yang ditahan pada saat itu cuma Pangeran Diponegoro,” imbuhnya.

Kisah tentang penjara Diponegoro yang ada di sudut sebelah kanan gerbang masuk tempat wisata ini cuma merupakan simbol. Lokasinya pun hanya hasil perkiraan orang-orang yang terlibat dalam preservasi benteng. Perkiraan itupun tak didasari hasil riset.

“Itu cuma sebagai simbolis, setelah kita tau cerita sebenarnya. Dulunya kita cuma membuat itu sebagai simbolis tahanannya karena pihak terdahulu tidak mengetahui kisahnya. Mereka cuma tahu kalau di seputar area Benteng Rotterdam, pernah ditahan Putra Raja Yogyakarta, yakni Pangeran Diponegoro,” tandasnya.(*)


BACA JUGA