Museum Kota Makassar (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

5 Bangunan Peninggalan Belanda di Makassar

Selasa, 12 Januari 2016 | 16:32 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Tempo dulu, Makassar adalah salah satu tempat berdirinya kerajaan terbesar di Indonesia Timur. Namun menurut Kamaruddin, staf budaya Fort Rotterdam, setelah kerajaan-kerajaan kecil bersekutu dengan kolonial Belanda, akhirnya kerajaan ini takluk.

Di bawah kuasa Belanda saat itu, di kota ini lantas dibangun dan
dipugar beberapa bangunan, termasuk yang difungsikan sebagai
kantor pemerintahan. Tentu dengan gaya arsitektur khas Belanda. Bangunan-banguan itu masih ada yang tersisa kini.

Kali ini GoSulsel.com mengupas 5 di antara bangunan-bangunan
itu:

Fort Rotterdam

Benteng ini dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa X yang bernama
Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Benteng yang terletak di Jl Ujungpandang ini merupakan tempat raja dan keluarganya menetap.



Benteng yang biasa juga disebut Jumpandang (Ujungpandang) ini
berbentuk seperti ekor penyu yang hendak merangkak turun ke
laut. Bentuk ini menyiratkan filosofi Kerajaan Gowa, yang
berjaya di daratan maupun di lautan.

Benteng ini kemudian jatuh di tangan Belanda pada 1667 melalui
Perjanjian Bongayya. Perjanjian itu ditandatangani setelah raja
yang berkuasa saat itu kalah dalam pertempuran.

Namanya pun bersilih jadi Fort Rotterdam setelah dipugar oleh
Belanda. Kali ini, dengan gaya arsitektur Eropa masa itu dan
dikerjakan oleh para seniman, bukan tukang.

Societeit de Harmonie

Societeit de Harmonie dibangun pada 1896 oleh pemerintah
kolonial Belanda. Arsitektur gedung yang letaknya di Jl Ahmad
Yani ini bergaya Neo Klasik. Dibangun di atas tanah seluas 2.339
meter persegi. Sedangkan denahnya berbentuk seperti huruf “L”
dan dilengkapi dengan sebuah menara dengan atap berbentuk kubah.

Dahulu, bangunan ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan
tempat pertemuan, perkumpulan, pesta, pertunjukan sandiwara,
musik dan acara resmi lain. Semua acara itu dihadiri oleh tamu-
tamu penting dan petinggi Belanda saat itu.

Sekarang, Gedung itu masih dipakai sebagai tempat pertunjukan
tari dan teater. Selain itu, sebagai ajang pameran aneka produk
seni rupa seperti lukisan, patung, dan foto.

Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar

Stasiun radio langsung dibangun oleh pemerintahan Jepang tepat ketika pertama kali mereka menduduki Makassar, 8 Desember
1942. Namanya Makassaru Hozo Kyoku, disingkat MHK. Siaran pertamanya berupa pidato dari Laksamana Suddo Kane Omi (Pejabat Angkatan Lain Dai Nippon). Dan tentu untuk memperkuat posisinya, siarannya berisi propoganda.

Namun, stasiun radio yang berada di Jl Ribura’ne ini kemudian
beralih ke tangan Kamarsayah, Sutoyo, dan Muritib dari
Jakarta, Mei 1950. Dan akhirnya dikendalikan oleh Tentara Nasional Indonesia, 18 Agustus 1950, dan masih mengudara sampai sekarang.

Museum Kota Makassar

Awalnya, bangunan ini bernama Raadhus van de Gemeente atau
Kantor Wali Kota. Tak lain karena gedung ini memang berfungsi sebagai kantor sang wali kota. Jaman itu, untuk pertama kalinya, Makassar dipimpin oleh wali kota berkebangsaan Belanda bernama JE Dan Brink. Bangunan ini juga dibangun berdasar selera arsitektur Belanda.

Juni 2000, di bawah kepemimpinan HB Amiruddin, bangunan ini beralih fungsi menjadi museum. Ada berbagai koleksi bersejarah di dalamnya. Untuk mengetahui linimasa kota ini, Anda harus menyusuri museum di Jl Balaikota ini mulai dari sebelah kiri pintu masuk museum.

Pengadilan Negeri Makassar

Jika sedang berdiri di Lapangan Karebosi menghadap ke barat, cobalah menoleh ke kiri. Di sana, Anda bisa mendapati Pengadilan Negeri Makassar. Bangunan ini adalah salah satu bangunan yang juga peninggalan Belanda.

Bangunan ini dulu adalah tempat berkantornya majelis pengadilan di bawah pimpinan opsir justisi bernama Baljauw. Namanya College van Schepennen dengan sebutan Schepenbank. Majelis ini berperan mengadili segala penduduk kota bangsa manapun.

Sama halnya dengan Societeit de Harmonie, bangunan ini juga dibangun dengan gaya arsitektur Neo Klasik Eropa campuran, Renaissance dan Romawi.

Bangunan-bangunan tadi terletak di lokasi yang saling berdekatan. Sehingga untuk mengunjungi semua lokasi itu, hanya butuh waktu tak lebih dari 3 jam.(*)


BACA JUGA