(FOTO: Prosesi Maccera Tappareng diadakan tiap tahun oleh masyarakat yang berada di sekitar Danau Tempe di Soppeng/Sabtu, 30 Juli 2016/Muhammad Yusuf/GoSulsel.com)

Mengintip Prosesi Adat Maccera Tappareng di Tengah Danau Tempe

Sabtu, 30 Juli 2016 | 20:33 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Yusuf Muhammad - Go Cakrawala

Soppeng, GoSulsel.com — Warga nelayan di Kampung Lajarella, Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa, Soppeng, percaya bahwa berkah penghidupan yang berasal dari Tappareng Salomate (Danau Tempe) tak lepas dari pemberian ‘Sang Penghuni’ Danau. Karena itu, ritual adat Maccera Tappareng dilakukan tiap tahun, dari generasi ke generasi. Meski demikian, nuansa keislaman begitu kental pada tiap prosesinya.

Ritual tahunan ini diawali dengan penyembelihan seekor kerbau. Kepala kerbau tadi kemudian disimpan di dalam walasoji (keranda dari bambu). Lalu dengan beberapa perahu kecil, walasoji tadi dibawa ke tengah tappareng salomate (Danau Tempe).

Upacara ini dipimpin oleh seorang Matoa Pakkaja. Ia adalah sosok yang mengetahui makna dari ritual adat ini, juga paham runutan prosesi Maccera Tappareng.

Beberapa sesembahan seperti Sokko (beras ketan) empat warna, telur ayam, pisang, ayam putih, dan paling utama adalah kepala kerbau.

Gosulsel.com bersama beberapa warga berkesempatan mengikuti prosesi sakral bagi nelayan di sekitar Danau Tempe ini.

Haji Mappi, Matoa Pakkaja yang ditemui usai pelaksanaan prosesi mengungkapkan, bahwa Maccera Tappareng merupakan satu bentuk rasa syukur masyarakat nelayan Salomate selama setahun mencari nafkah di Danau Tempe.

“Sejak ada yang namanya tappareng ini sudah dilakukan secara turun temurun,” ungkap Haji Mappi.(*)


BACA JUGA