Perang Narasi Nasionalisme Dalam Bincang Kebangsaan Sambut HUT ke-73 RI di Makassar

Jumat, 17 Agustus 2018 | 01:05 Wita - Editor: Irwan Idris -

Makassar, Gosulsel.com — Dalam rangka menyambut HUT RI ke 73 di Makassar, Bincang-bincang kebangsaan digelar atas kerjasama perwakilan Kementerian Pertahanan dan Pemerintah Kota Makassar di Red Corner Cafe pada Rabu (15/8/2018) pukul 20.30 Wita.

Bertajuk ‘Menjalin Sinergitas Untuk Memperkokoh Nasionalisme’, hadir sebagai pembicara inti Prof. Dr. Basri Modding, S.E., M.Si yang merupakan Rektor UMI.

Sementara pembicara panel dihadirkan Wali Kota Makassar, Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomato, Brigadir Jenderal TNI Wahyu Agung Prayitno, M.Pd., M.M. selaku Kepala Perwakilan Pertahanan RI Provinsi Sulsel, Budayawan Moch. Hasyim Ibrahim, S.E serta Arwan Cahyadi dengan latar belakang pengusaha.

Para pembicara memaparkan pandangan mereka tentang arti nasionalisme ditilik dari profesi masing-masing.



Brigadir Jenderal TNI Agung Prayitno membuka keriuhan dengan pernyataannya bahwa tak ada jaminan sebuah negara tidak akan runtuh.

“Tidak ada jaminan suatu negara tidak bisa runtuh, senantiasa akan ada ancaman yang mengarah pada sumber daya alam Kita, untuk itu cinta harus ada,” bebernya.

Lebih lanjut Ia mengurai hal yang harus dipertahankan dari Indonesia yaitu kedaulatan negara di seluruh aspek, keutuhan negara dan keselamatan bangsa.

Keseruan semakin terpantik saat Budayawan Hasyim Ibrahim menginstruksikan untuk menggagas kembali definisi cinta Indonesia.

“Mari Kita ciptakan narasi baru tentang cinta kita kepada Indonesia, jangan-jangan Kita akan patah hati untuk selamanya,” serunya.

Hal tersebut menurutnya disebabkan era globalisasi yang kini menjangkiti bumi pertiwi.

“Segala macam godaan global membuat Nasionalisme luput. Sekarang justru yang harus kita hadapkan saat ini adalah Nasionalisme vs Globalisasi. Bicara Nasionalisme tapi takluk dengan android,” tambahnya.

Sedangkan Arwan Cahyadi dari sisi pengusaha menyatakan perlunya bersepakat dalam merumuskan cinta Indonesia.

“Kita harus bermufakat membela negara kita. Semoga menjadi kenangan bagi generasi, kalau bukan Kita sekarang, siapa lagi,” terangnya.

Sementara itu, komentar dari salah satu peserta menyita perhatian diskusi yang menyatakan bahwa sinergitas untuk memperkokoh cinta Indonesia tak bisa jika hoax masih mendarah daging.

“Jangan harap sinergitas tanpa menghancurkan penyebar hoax di medsos,” ungkapnya.

Di akhir, Wali Kota Makassar Danny Pomanto memaparkan pentingnya membangun sinergitas dalam memperkokoh cinta Indonesia.

Sinergi menurut Danny adalah bagaimana seluruh potensi yang dimiliki, meski pun berbeda-beda bisa berjalan bersama dan membawa manfaat. sementara akumulasi adalah bagaimana sebuah beban yang jika dikerjakan dengan menyatukan potensi yang ada maka akan menjadi ringan.(*)

 

Reporter: Mutmainnah/Gosulsel.com


BACA JUGA